Kamis, 24 November 2016

[Fantasi] Mencari Negeri Fantasi




                                          sumber gambar:Google



Kepak sayap silih berganti dari yang terdengar berat sampai yang lembut, seperti para penerjun mendaratkan kakinya di pelataran samping dapur.

Puluhan merpati mendarat satu demi satu, meninggalkan dahan pohon mangga demi memperebutkan butiran beras yang ditebar oleh tangan seorang gadis cilik berumur  sembilan tahunan.

Awalnya, merpati itu hanya ada tiga pasang dari jenis berbeda. Modena, King Pigeon, dan merpati balap. Di antara ketiga jenis itu, Modena paling menggemaskan karena badannya buntet, ekornya pendek, sayapnya berwarna colat, kepala hitam, punggung dan badannya berwarna putih. Sedang merpati balap mengagumkan saat terbang melintas awan. Melesat secepat kilat dengan tubuh rampingnya, meski untuk warna biasa saja. Leher hijau kebiruan cenderung ungu saat diterpa sinar matahari, selebihnya hitam atau abu-abu. Yang paling seksi King Pigeon. Badannya hampir sebesar ayam, kepaknya paling keras kalau terbang tiba-tiba karena terkejut.

Perkembangbiakannya begitu cepat, terutama untuk jenis merpati balap. Semakin bertambah, karena ada juga merpati tak diundang. Tiba-tiba saja sudah bergabung dalam kerumunan yang ada dan tak mau pergi lagi. Pun sebaliknya, harus ikhlas kalau sewaktu-waktu jumlahnya berkurang karena ada yang pergi dan tak kembali. Risiko memelihara burung yang dibiarkan bebas tanpa sangkar.

Kirani, gadis kecil penebar beras, sangat menyukai merpati-merpatinya. Tak ada waktu terbuang tanpa bercengkerama dengan mereka. Bahkan sering ia berbicara seolah mereka adalah sahabatnya.

“Dena, ayo erami telurmu. Jangan main terus,” celetuknya sambil menggiring emak Modena yang meninggalkan dua telurnya di sarang sekadar bercumbu dengan jantannya. Modena ini agak malas mengerami telurnya, barangkali karena mereka pasangan yang masih muda, masih suka bercumbu saja.

“Hush..hush!” Kirani menghalau salah satu pasangan merpati balap yang berusaha mengambil sarang merpati lain yang sedang mengerami telurnya. Kadang memang seperti itu, ada merpati yang tak bisa bertelur meski sudah bercinta berkali-kali, dan berusaha merampok sarang lain untuk dierami.

Hingga suatu hari, Modena malas lagi untuk mengerami telurnya. Kirani berusaha menggiringnya agar kembali ke sarang. Tapi ada yang janggal pada telur yang ditinggalkan.

“Hah, apa ini?” Ia mengambil sebutir telur lain di antara dua telur yang ada. Seperti telur, tapi berat dan keras. Warnanya hijau kebiru-biruan. Seketika ia memanggil ibunya.

“Ibuk…Ibuk…Ibuk….”

Panggilan itu seperti kata-kata mantra.

Tiba-tiba langit  berpendar. Kirani seperti berada dalam gelembung transparan yang sangat besar. Ia bisa melihat dapur tempat ia biasa menebar beras ke pelataran, tapi tak bisa melewati sekat yang seperti karet tipis. Ia terus memanggil ibunya, tapi suaranya hanya memantul seolah berputar dalam gelembung itu.

Belum hilang rasa takutnya, tiba-tiba di hadapannya berdiri seorang pemuda berpakaian necis, jas coklat dipadu padan dengan kemeja dan celana putih, dengan sepasang sayap kokoh di punggungnya. Sepatu? Ah, kakinya bukan layaknya kaki manusia, tapi mirip kaki merpati. Empat jari dengan cakar yang tidak begitu tajam berwarna merah.

Kirani ingin menangis. Tapi ia menahannya dan menguatkan hati untuk berani.

“Kamu siapa?” Ia bertanya sambil tak henti menatap kaki pemuda itu.

“Kamu tidak mengenaliku?” Pemuda itu balik bertanya, tersenyum lucu, dan memutar tubuhnya sambil menderuk seperti suara merpati yang berusaha menarik perhatian lawan jenisnya.

“Hah? Kamu, Modena?” Kirani segera ingat tingkah Modena, merpati yang paling centil di antara merpati peliharaannya.

“Iya.” Modena menjawab singkat tapi tak membiarkan senyuman pergi dari bibirnya yang mungil.

Melihat Kirani masih bingung dengan keberadaannya, Modena mengajaknya naik ke sebuah rumah sederhana, semacam rumah dengan tangga tinggi di atas pohon mangga. Ternyata di dalam rumah ada sosok perempuan seperti Modena. Gaunnya putih dipadu padan dengan kardigan coklat. Ia sedang menyuapi sepasang anak kembar, lelaki dan perempuan. Eh, jantan dan betina tepatnya. Dan tentunya, kakinya semua sama dengan  Modena, kaki burung.

“Ini anak-anakmu? Bukankah kalian berdua malas mengerami telur dan hanya sibuk bermain saja?” Kirani sudah tidak takut lagi dan mencoba mencairkan suasana dengan menggoda keduanya.

“Itu kan dulu, waktu kami baru bertemu. Masih muda dan inginnya bermain terus.” Modena dan istrinya tersipu.

Kirani lebih berani untuk menatap keadaan sekitarnya.

“Ini aku di mana? Negeri burung? Kenapa aku bisa ke sini?” Seperti gumam, pertanyaan-pertanyaan itu mengalir tanpa putus.

Modena dan istrinya saling pandang. Membiarkan Kirani berjalan ke seluruh sudut rumah. Melihat ke luar dan memuaskan keingintahuannya.

Seolah lupa pada pertanyaannya, Kirani begitu takjub melihat aktifitas di luar rumah. Orang-orang berpakaian seperti tampilan jenis-jenis merpati dengan sayap di punggungnya. Mereka ada yang sibuk bercocok tanam, ada yang memipil jagung, ada yang memisahkan gabah dari jeraminya. Ada yang mengasuh anak, ada yang berkejaran bersenda gurau. Riuh sekali, seperti suara merpati di rumah saat Kirani bermain bersama mereka.

“Ini negeri peri merpati, Kirani.” Modena mulai menjawab pertanyaan Kirani yang terlihat mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.

“Coba buka genggamanmu. Itu adalah batu kunci, pembuka gerbang dunia peri merpati. Sengaja sesepuh kami memberikan itu kepadamu, karena kamu begitu peduli kepada kami selama ini.”

Perlahan Kirani membuka genggamannya. Batu hijau kebiruan sebesar telur merpati, berpendar diterpa sinar matahari yang masuk dari jendela. Ia timang dan amati dari berbagai sudut. Pendarnya semakin berkilau di tangan mungilnya.

Tiba-tiba ia ingat sesuatu.

“Benar ini kunci pembuka gerbang dunia peri?” Modena hanya mengangguk tanpa mengerti mengapa Kirani begitu gembira menerima batu telur itu.

“Berarti aku sudah sampai di negeri peri, negeri fantasy. Modena, apakah negeri ini dipimpin oleh seorang ratu dari bangsa bersayap sepertimu yang bernama Ratu Meraelf?” Mata Kirani berbinar. Terbayang wajah seorang ratu cantik pemimpin negeri besar dengan rakyat dari berbagai jenis binatang darat, udara, dan laut.

“Negeri ini besar sekali Kirani. Aku tidak tahu siapa pemimpin negeri ini. Yang aku tahu hanyalah para sesepuh jenis merpati yang memimpin kami turun temurun.”

“Ah, kau, Modena. Aku membacanya. Ada buku yang menceritakan dunia yang kita injak seperti sekarang ini.”

Kirani tidak tampak seperti gadis sembilan tahun. Ia memang gemar membaca buku. Selain rajin mengunjungi perpustakaan di balai desa, ia juga suka membaca buku-buku milik ibunya. Ibunya seorang penulis, karenanya Kirani mewarisi bakat ibunya, menyukai dunia literasi.

“Negeri itu dekat dengan pantai Utara, Modena. Ada seorang anak yang berhasil masuk ke sana, lewat pantai Utara Jakarta. Ah, ya, nama negerinya Kerajaan Elfunity.” Kirani bersemangat sekali.

“Modena, aku ingin sekali pergi ke kerajaan Elfunity. Mau, kan, kamu mengantarku mencarinya?” Kirani memandang Modena dan istrinya bergantian. Penuh harap.

“Aku tidak bisa mengantarmu. Anak-anakku masih kecil. Aku harus mengajari mereka mencari makan, terbang sendiri, dan melindungi mereka dari makhluk pengganggu lainnya. Maafkan aku, Kirani.”

Kirani sedikit kecewa. Tapi matanya kembali cerah saat Modena berjanji mencarikan jalan agar ia bisa menemukan Kerajaan Elfunity.

Modena mengajak Kirani mengunjungi kediaman sesepuh merpati.

Tidak begitu jauh dari rumah Modena, sebuah rumah dengan tangga yang lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya, tampak sudah begitu tua dibangun pada dahan sebuah pohon kenari.

“Assalamu’alaikum, Pak Puh,”ucap Modena di depan pintu tak berdaun.

“Wa’alaikumsalam. Masuklah, Anak Muda.” Suara bergetar lebih dari seorang menjawab salam Modena.

Kirani menggumamkan ucapan salam sebagaimana Modena. Ia menempel di belakang Modena, mengintip sedikit takut  pada tiga kakek yang duduk berjajar menghadap pintu. Sayap-sayapnya tidak sekokoh sayap Modena, tapi pandangan matanya tajam, menghujam jantung Kirani yang merasakan aura kewibawaan seperti kewibawaan ayah dan kakeknya.

“Duduklah. Bukankah ini pembawa batu kunci gerbang dunia peri?” Tanpa dijelaskan mereka tahu siapa yang datang bersama Modena.

“Iya, Kakek.” Dengan takzim Kirani menjawab pertanyaan para sesepuh itu.

“Ada keperluan apa sampai harus menemui kami, bukankah lebih menyenangkan kalau bermain dengan orang-orang di sini?” Para sesepuh beranggapan pasti ada hal penting sampai Kirani harus menemui mereka.

Mula-mula Kirani sedikit ragu untuk menyampaikan maksudnya. Tapi tanpa terasa, semangatnya begitu menggebu ketika menceritakan Kerajaan Elfunity yang ingin ia kunjungi.

Para sesepuh mendengarkan cerita Kirani tanpa menyela sedikit pun. Dan secara bergantian mereka menanggapi cerita Kirani.

“Sepengetahuan kami, dunia peri tak punya struktur pemerintahan seperti peradaban yang ada dalam dunia manusia, Anak Muda. Mungkin buku yang kaubaca, adalah sekadar rekayasa,  seolah kehidupan dunia peri sama dengan kehidupan dunia manusia.

Kirani tak sepenuhnya paham apa yang para sesepuh ucapkan. Di dalam hatinya ia tetap percaya kalau Kerajaan Elfunity itu ada. Ratu Meraelf, Ramelf, Arwann, Pegasus, Ahmad, semua itu ada.

“Di dunia peri seperti kami, tak ada pengakuan kepada bangsa lain untuk menjadi pemimpin kami. Pemimpin kami adalah bangsa kami sendiri. Masing-masing bangsa mempunyai pemimpinnya sendiri yang mereka akui karena dianggap sanggup melindungi warga dari serangan pemangsa bangsa lain. Tidak ada bangsa lain yang mengabdi pada kami, begitu pun kami, tidak mengabdi kepada bangsa lain.” Para sesepuh panjang lebar menjelaskan kepada Kirani, yang hanya duduk diam dan tetap berharap diijinkan diantar oleh seorang warga peri merpati mencari kerajaan Ratu Meraelf.

“Ijinkan aku tetap mencarinya, Pak Puh. Ijinkan, ya,” rengek Kirani seolah ia berhadapan dengan kakeknya.

Melihat keteguhan hati Kirani, para sesepuh luluh hatinya dan mengutus salah satu jenis merpati balap untuk mengantarnya.

Segera Kirani berpamitan setelah mengucapkan terima kasih dan mencium tangan para sesepuh, yang sayap di punggungnya sedikit bergetar karena tidak mampu meyakinkan Kirani kalau yang ia baca itu adalah khayalan belaka.

Kirani gembira, merpati balap itu masih muda, tampan, dan terlihat tidak sombong. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Modena serta istrinya, Kirani berpamitan.

Racing, nama pembalap muda itu, dengan sopan menyilakan Kirani naik ke punggungnya. Dan dengan sopan pula, Kirani duduk dengan hati-hati. Ini pengalaman pertama Kirani terbang seperti merpati balap yang ia punya di rumah. Hatinya berdebar kencang saat Racing terbang pada kecepatan penuh melintasi awan hitam. Erat ia peluk bahu Racing dan sejajar ia posisikan kepalanya dengan kepala Racing. Angin begitu kencang, dingin  menusuk tulang. Bersyukur istri Modena memberinya baju tebal yang terbuat dari bulu-bulu berwarna coklat. Pasti saat itu ia berpenampilan seperti jenis merpati Modena.

“Kita mencari ke mana, Rani?” Di sela desir angin Racing menanyakan arah tujuan. Kirani sedikit terkesiap, hanya ayah, ibu, kakak dan adiknya saja yang memanggilnya dengan sebutan Rani. Teman sekolah dan gurunya biasa memanggilnya dengan sebutan Kiran.

“Ke arah Kenjeran Surabaya aja, Racing. Kan, sama-sama pantai Utara. Barangkali bisa kita telusur dari penghuni yang ada di sana.” Kirani memberi arahan.

Racing melesat ke arah Utara. Sekejap kemudian ia menukik tajam, mendarat persis di pantai Kenjeran.

Kirani mengusap matanya yang pedih. Udara laut dengan aroma garam seperti memercik ke bola matanya.

“Sini aku bersihkan matamu.” Racing mengeluarkan sapu tangan dari balik sayap tegapnya, membersihkan mata Kirani yang merah membasah.

“Terima kasih, Racing,” ujar Kirani sambil menatap laut lepas yang bergelombang nun jauh di sana. Pantai Kenjeran tak sedikit pun tersentuh ombak. Hanya lumpur membentang beberapa kilometer, dengan sesekali ikan-ikan kecil berseluncur dan berlompatan, lari dari kejaran camar yang tiba-tiba menukik mengancam nyawa mereka.

Ada seekor peri kupu-kupu melintas di dekat kepala Kirani sedang bersenandung riang.

“Eh, maaf peri kupu-kupu, boleh aku bertanya?” Kirani menghentikan kupu-kupu kuning itu sejenak.

“Iya, Kakak, mau tanya apa?” Peri kupu-kupu itu ternyata ramah. Senyum manisnya tak lekang seperti sayap indahnya yang terus mengepak.

“Adik, pernah dengar Kerajaan Elfunity? Pernah kenal dengan peri kupu-kupu bernama Ramelf?” cecar Kirani.

“Oh, maaf, Kakak. Aku tidak pernah mendengar nama kerajaan Elfunity, dan juga belum pernah mendengar nama Ramelf.” Kupu-kupu itu menjawab singkat tanpa meninggalkan senyumannya.

“Apakah di sini Adik pernah melihat bangsa Mermadian? Dulu nama pemimpinnya Racean. Tapi sekarang sudah meninggal dan digantikan putranya, Arwann. Kalau muncul dari laut, Arwann ini sisiknya berguguran dan akan berubah menjadi baju zirah.” Berapi-api Kirani menggambarkan yang dicarinya.

“Tidak tahu, Kakak. Pantai ini jarang sekali tersentuh ombak besar, kecuali saat purnama, air akan sampai di pantai. Dan aku belum pernah sekali pun melihat bangsa Mermadian di laut ini,” ujarnya.

“Oh, begitu, ya. Terima kasih, Adik.” Kirani tertunduk lesu. Tak ada yang tahu atau pernah mendengar nama Kerajaan Elfunity di sini setelah Kirani menanyakan kepada peri Kepiting, ikan-ikan kecil maupun lebah dan binatang lain, padahal ini adalah juga dunia peri yang terhubung dengan laut yang sama dengan lokasi Kerajaan Elfunity.

Peperangan di Kerajaan Elfunity menurut buku itu, melibatkan banyak bangsa dari ordo-ordo berbagai macam binatang, yang mestinya binatang yang sama seperti yang ada di Kenjeran ini.

“Mau dicari ke mana lagi, Rani?” Racing memecah hening kesedihan Kirani yang belum berhasil mendapatkan sedikit pun titik terang tentang Kerajaan Elfunity seperti yang ia baca di buku.

“Tak tahulah. Jakarta jauh dari sini. Kalau terlalu lama pergi, aku khawatir keluargaku akan bersedih.” Kirani tiba-tiba sedih saat teringat kepada ibu, bapak, kakak, dan adiknya.

“Kita pulang? Naiklah ke punggungku.” Racing membetulkan kancing baju hangat yang dipakai Kirani. Ia juga memasang sapu tangan menutup mata Kirani agar tidak pedih kalau harus melesat di udara bermendung tebal seperti sekarang ini. Racing melesat seperti jet tanpa meninggalkan jejak. Rani meringkuk di punggungnya.

*
Sementara itu di Sidoarjo, mendung tebal tak kuat lagi menggendong air di pundaknya. Tanpa pikir panjang, diturunkannya semua beban itu, menjadi hujan deras yang disertai angin dan petir.

Ibu tergesa-gesa menutup pintu dan semua jendela. Baru ingat kalau sehabis makan siang tadi, Rani tak terlihat kelebatnya. Kakak dan adiknya pulas bergelung dalam selimut. Ke mana Rani?

Bersijingkat ibu masuk ke kamar kerja yang sekaligus dipakainya sebagai perpustakaan. Lega hatinya melihat Rani tidur di kursi keheningan –kursi tempat ibu biasa mencari ide untuk tulisan-tulisannya- sambil memeluk buku “Fantasytopia”.

Ada butir bening membekas di sudut mata Rani. Ibu tidak tahu, apa yang Rani mimpikan, tidur memeluk buku dan berurai air mata.

Sengaja ibu membiarkan Rani pulas. Kadang ibu merasa bersalah, membiarkan anak umur sembilan tahun membaca novel fantasi berat semacam “Fantasytopia”. Ia tentunya belum dapat membedakan, mana yang nyata, mana yang khayal.
Ibu mengelus kepala Rani, mencium keningnya dengan lembut, dan membiarkannya tetap pulas.

*
Tamat

*Terinspirasi oleh novel “Fantasytopia” karya Ando Ajo, Penerbit Jentera Pustaka(Mata Pena Group)