Rabu, 28 November 2018

Sepeda Unto




Sepeda "unto", begitu disebutnya.
Sepeda ontel yang setangnya tinggi, rangkanya juga tinggi, sementara sadelnya dengan pongah seolah menjamin yang menaikinya pasti terlihat gagah dan keren.
Aku selalu kagum dan ingin sekali menaikinya.
Tapi tubuh kecilku untuk memegang setangnya saja harus berjinjit.
Setiap kali Bapak menyandarkannya di samping rumah, aku tak henti memegang bagian ini dan itunya.
Kubayangkan, angin akan menyapu seluruh tubuh ketika aku mengayuhnya.
Sesekali bel sepeda kumainkan, denting besi legendaris, kring...kring...
Sambil senyum-senyum, aku mencoba menegakkannya...
Eittt....berat sekali...
Berkali-kali mencoba, bisa juga tetap mempertahankan tegaknya dengan membuatnya bersandar di tubuh kecilku.
Tapi alamak....
Ia malah roboh ke arah sebaliknya, dan bodohnya aku, tak kulepas peganganku, dan aku pun jatuh di atasnya.
Aku tak berani menangis. Hanya tertunduk malu ketika Bapak menolongku dan membuat sepeda itu tegak kembali.
Setelah kejadian sepeda roboh itu aku tak berani lagi memegangnya.

Beberapa tahun kemudian ketika badanku sudah cukup tinggi, hasratku untuk menaiki sepeda itu muncul lagi. Apalagi teman-temanku sudah banyak yang bisa mengendarai sepeda unto.

Aku cari pijakan trotoar jalan untuk bisa melangkahkan kaki melewati rangka dan menginjak pedalnya.
Pandanganku terus ke arah pedal yang tak mampu kukayuh setengah pun.

"Sedeg sedeg...sedeg sedeg dulu?" teriak teman-temanku.

Aku berusaha sedeg sedeg, mengayuh pendek-pendek dan berusaha menaikkan kaki yang lain ke pedal. Tapi tak semudah mengucapkan, pantat geyal geyol, sepeda roboh kembali.

Aku garuk garuk kepala, "Susah banget, seee...."

Ah, mungkin kalau pantatku tidak geyal geyol aku akan bisa menaikinya.
Kusandarkan pantat di rangka (karena tidak sampai kalau naik di sadel) setelah sedeg sedeg.

Horeeee....aku melaju.

"Woiii...lihat ke depan...lihat ke depan," teriak teman temanku ketika aku melaju kemudian terjungkal menabrak trotoar.

Haaahhhh....aku meringis. Baru bisa melaju sebentar, harus dibayar dengan goresan di lutut dan siku.

"Kena selangkangan enggak?"

"Ehmmm...paha...pahaku sakit."

Dasar anak-anak tak kenal menyerah.
Besuknya lihat sepeda ontel Bapak tersandar di samping rumah, tanpa ragu langsung kubawa ke jalan.

Sedeg-sedeg sudah lancar. Pantat sudah mantap, pandangan sudah ke depan.
Satu hal ingin kulakukan, aku ingin bisa duduk di sadel seperti mereka.

Kuberanikan diri, setelah sepeda stabil, aku berdiri di rangka sepeda kemudian meletakkan pantatku di sadel.

Asiiikk...bisa...

Meski untuk mengayuh harus di dorong kuat-kuat katena kakinya tidak sampai.

Bhaaaaa....aku bisa...

Angin menyapu seluruh tubuhku...

Eeittt....aku belum tahu cara turun dari sadel...

.....eiittt.......gubraaaaakkk!!

Maunya loncat begitu saja dari sadel, tapi kakiku terlalu pendek, jadinya malah mencium aspal lagi.

Hiks!!

#sedegSedeg
#masaKecilku

#rumahSundukSate
Sidoarjo, 16 November 2018

Lail



Maka milik-Mu lah lail
Dan semua pujian tentang-Mu mengalir deras merayapi malam
Begitu hening hingga hati terpapar bening
Bukan lagi meminta
Bukan lagi menghiba
Semata memuja dan mencinta
Luruh luluh
Lantak melunglai
Berserah menyerah
Lail
Lail
Aku pun hilang
Dalam gelapmu
Dalam rasa-Mu

*Ndarjo, 29 November 2015

*02.43 Waktu Candiloka