Kamis, 12 Februari 2015

TEMPURUNG KITA

" Aku membacamu. Aku membacamu. Sungguh aku membacamu "
" Ah kau hanya main-main saja. Lihatlah, belum kau buka sama sekali apa yang kutulis untukmu."
" Maafkan aku. Maafkan aku. Aku sedang fokus pada tulisanku untukmu."
" Kau menulis untukku? Sejak kapan? Mengapa tak pernah sampai padaku?"
" Ya..ya...aku menulis beribu bahkan berjuta kata untukmu. Sungguh aku menuliskannya."
" Tapi mana?"
" Bersabarlah. Bersabarlah. "
Klik. Layar komputer padam. 
Klik. Layar komputer nyala kembali.
" Selamat malam. Engkau masih di situ?"
Dag dig dug  adalah satu-satunya musik mendebur seluruh raga.
Dag dig dug adalah satu-satunya denyut tanda jantung masih berdegup. Masih hidup.
Notifikasi berdentung.
"Selamat malam. Ya, aku masih di sini "
Blar. Seperti jebol bendung Katulampa. Dad dig dug berubah menjadi desir.
" Maafkan aku kalau aku sungguh tak bisa sabar. Aku tahu, sabar itu adalah tidak bertanya apapun sampai kau menerangkannya sendiri nanti padaku. Maafkan aku."
" Ah sudahlah. Bukankah tadi sudah kukatakan kalau aku sedang menulis untukmu?"
" Ya selesaikanlah. Tapi tolong baca aku malam ini. Kepalaku serasa tercabik jika kau tak melahap tulisan-tulisanku ini."
" Memangnya kau tulis apa? Hah ? Hanya satu kata? KANGEN? "
" Ya. Aku kangen sekali padamu. Komentar-komentarmu selalu membuatku merasa nyaman. Merasa tenang."
" Kau mulai mengeluarkan jurus pendekar mabuk kepayang. Apa saja yang sudah merasuki pikiranmu?"
" Tidak tahu. Aku tak pernah sekalipun berusaha membayangkan wajahmu. Sama sekali tidak. Aku selalu ingat pada rambu-rambu yang sudah kita sepakati bersama."
" Oh ya? Yang utama apa?"
" Yang utama, kita tidak akan pernah -selamanya- saling mengenal raga kita. "
" Yang berikutnya?"
" Yang menjalin hubungan ini adalah hanya jiwa saja. "
" Lainnya?"
" Tidak ada rambu-rambu agama, tidak ada rambu-rambu sosial, tidak ada rambu-rambu hukum, tidak ada rambu-rambu apapun."
" Konsekuensinya?"
" Kita tidak saling bicara tentang status, tentang ketentuan agama mengenai status, tentang sanksi sosial mengenai status, tentang apapun status raga kita."
" Dan?"
" Pikiran kita bisa leluasa memosisikan diri sebagai adik, kakak, teman, musuh bahkan boleh sebagai suami istri."
" Lalu?"
" Ayo kita sekarang memosisikan diri sebagai suami istri. Aku kangen."
" Apa yang akan kau tulis saat engkau menjadi suamiku dan aku menjadi istrimu?"
" Sayang, percayailah aku. Akupun akan mempercayaimu. Fondasi utama suami istri itu adalah saling percaya. Kita lakukan itu dengan ketulusan dan keikhlasan. Jika aku berada di luar rumah, iringi pikiranku dengan doa keselamatan dan pikiran-pikiran yang positif. Jangan pernah pikiranmu terkunci dan tak membangun komunikasi denganku. Katakan apa saja yang ingin kau tahu. Dan akupun akan melakukan hal yang sama padamu. Tidak ada setitik rahasiapun di antara kita. Pikiranku dan pikiranmu tak terhalang oleh tempurung apapun. Semuanya dapat dilihat secara transparan dari sudut manapun."
" Ya. Aku setuju dengan pikiranmu itu. Namun demikian, ada hal yang kadang tak bisa dinalar. Para suami atau para istri terkontaminasi oleh perubahan pikirannya terhadap berubahnya waktu. Di masa-masa awal hubungan, bisa jadi komitmen masih dipegang teguh. Begitu kebersamaan memasuki tahun ke-3, ke-5, ke-8, ke-11 dan seterusnya, misi dan visi mulai memudar. Kadang karena ada kesenjangan pola berpikir, salah satu mengalami kemajuan pesat dalam pikir karena pendidikan, karir dan status soaial yang tinggi, sementara pasangannya pikirannya masih jalan di tempat, masih seperti yang dulu."
" Ya. Aku juga tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Bahkan pikiran yang mampu membuat raga berubah, bisa jadi membuat komitmen bisa diingkari. Suami merasa istrinya sudah seperti jemuran lusuh karena berkutat dengan kesibukan rumah tangga, atau merasa istrinya seperti artis papan atas yang glamour dengan pekerjaannya. Atau istri merasa suaminya seperti bos-bos banyak duit yang tidak tahu bagaimana cara memanfaatkan kekayaannya selain membeli perempuan-perempuan yang haus uang, atau justru suami yang terpuruk dengan kesuksesan istrinya."
Klik. Layar komputer padam. Listrik tiba-tiba mati.
" Sayang. Sayang. Kenapa padam? Biarlah kali ini kubisikkan pikiranku dalam hatimu. Aku akan terus setia padamu. Sungguh. Aku akan terus mengasah pikiranku dan pikiranmu dalam langkah yang setara. Aku akan selalu menunggumu jika engkau merasa lelah untuk terus berpikir maju. Sebaliknya, lakukanlah hal yang sama padaku. Peluklah pikiranku ini dengan pikiran cinta tak bertepi. Seperti rimbunnya hutan yang mampu menyimpan banyak misteri kehidupan. Tumbuhkanlah di hati kita, lembah manah seluas samudra, yang tak bergeming sedikitpun dengan kesalahan yang tercebur di dalamnya. Jadikanlah pikiranku adalah pikiranmu dan pikiranmu adalah pikiranku. Sampai tempurung kepala kita meledak, menghancurkan kepala kita berdua."
Klik. Layar komputer padam.
Di ranjang nyata, lelaki menggauli istrinya seperti menunggang kuda liar.
Di ranjang nyata, perempuan diam-diam menitikkan air mata, memandangi ranjang yang dingin dan kosong, meratapi suaminya yang bergumul dengan maksiat.

#imbasduniamaya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar