Minggu, 03 Juni 2018

Berbisik Lagi Dengan-Nya


Kalam-Nya seperti belantara aksara hijaiyah. Jutaan diksi dengan susunan syair ajaib. Rima dan makna yang sungguh ajaib, tersurat dan tersirat.
Akan mudah tersesatkah ?
...
Langkah terjejak fokus, fokus, dan fokus.
Maka setapak demi setapak, terbuka jalur yang harus dilalui.
Kata, kalimat, selesai satu judul surat. Maka surat demi surat terlampaui pada malam bertabur ampunan.
...
Khatam.
...
Rndu kepada-Nya seperti candu.
Dan aksara yang hanya lewat pada ujung lisan meracuni hati.
Terjemah.
Yah, terjemah.
Subhanallah, walhamdulillah, wa la illahailallah wallahuakbar.
...
Kisah para nabi dan orang-orang yang dijadikan contoh kehidupan, kejadian, dan semua kebesaran-Nya, penuh dengan kalimat sastra yang begitu indah.
...
Juz Amma, surat-surat pendek, jelas nyata rima dan maknanya yang begitu dahsyat.
...
Sesungguhnyalah Allah SWT, Mahapenyair penguasa diksi semesta.
...
Salahkah aku jika sebutir debu kepenyairan-Nya, membalut hati dan napasku untuk mengikuti jejak-Nya?
...
#ada_bahagia
#dahsyat_di_dada
#tadarus
#pada_malam_ramadan

...
Sidoarjo, #Rumah_Sunduk_Sate

Berbisik Kepada-Nya




Kuketuk pintu malam-Mu

Sibakkanlah kabut-kabut alam ini  agar tak satu pun bintang pecah oleh ketak hati-hatianku

Tunjukilah aku jalan dengan cahaya-Mu yang sekilas nampak redup namun sesungguhnya menggelorakan hidup

Tunjukilah aku tempat di mana kuharus menyerahkan iman dan taqwaku ini

Aku tahu sisi-Mu taklah bertepi

Setiap manusia yang pergi menghadap-Mu berharap tempat di sisi-Mu, sedekat-dekatnya dengan-Mu

Lantas sisi yang manakah yang Kau ikhlaskan untukku?

Di ujung paling tepi sisi-Mu jika itu mau-Mu, aku akan menerimanya dengan penuh syukur

Sebab aku merasa, dosa dan kesalahanku masihlah lebih besar dibanding timbangan amal ibadahku

Aku akan tetap bersyukur, meski aku harus menggantungkan diri ini pada sehelai rambut yang terikat hanya pada ujung berkas cahaya-Mu

Dan sungguh aku akan tersungkur pada rasa syukur yang meledakkan jiwa, jika Engkau pada akhirnya mengikhlaskanku, terlelap nyaman dalam pelukan-Mu.
Dan bukan sekedar di sisi-Mu. ( Subhanallah walhamdulillah wala ila ha ilallah huallahuakbar)
#Rumah_Sunduk_Sate Sidoarjo, 3 Juni 2018

Minggu, 06 Mei 2018

KRECO SERAPAH


Masyarakat Jawa Timur tidaklah asing dengan sejenis molusca yang banyak ditemui diperairan dangkal seperti sungai-sungai kecil dan sawah.
Nyaris seperti bekicot tapi lebih bulat dan ukurannya sebesar ibu jari orang dewasa. Cangkangnya hitam berlumut hijau.
Di pasar banyak dijual 'telanjang', artinya sudah dibuang cangkangnya. Hati-hati jangan salah dengan keong emas.

Cara membedakan dengan keong emas, pada perut keong emas ada gumpalan bulat kecil isi perut. Sedang pada kreco gumpalan bulat berisi kotoran kekuningan itu tidak ada.
Mungkin untuk afdolnya, beli saja kreco yang masih bercangkang.

Minggu pagi, keluyuran ke Limgkar Barat Sidoarjo yang sepanjang jalan dari depan Mc D sampai ujung jalan menuju Pasar Larangan dipenuhi pedagang kaki lima.
Pakaian, alat masak, sepatu, buah, pecel, makanan siap saji sampai sempak ada di sana.
Nah, kulirik di antara macetnya kendaraan lewat yang nyaris semuanya melongok-longok dagangan, ada ibu yang sudah sepuh menyandarkan sepeda motor bebek.
Pada boncengannya ditancap sebuah banner kecil bertuliskan KRECO SERAPAH.
Ah, penasaran aku.

Baru sekali ini aku membcanya. Apa sih, serapah itu. Mosok sumpah serapah?
Aku menepi dan langsung memesan satu porsi bungkus.

"Pinten, Bu?"

"Sedasa ewu, Ning!" jawabnya sambil mengambil selembar plastik satu kiloan.

Tangannya mengaduk panci penuh kreco dengan sebuah irus besar.
Kuperhatikan, gerombolan kreco berenang di dalam kuah berselimut putih-putih entah parutan apa.
Dituangkan dua irus kreco kemudian diikat begitu saja tanpa karet.
Dimasukkan dalam kresek dilampiri sebuah tisu kuning dalam plastik yang disemat dua buah tusuk gigi.

"Hmmm, enak nih," gumamku sambil membayangkan rasanya seperti apa.

Sampai kubuka plastiknya di rumah, aku belum tahu rasanya seperti apa.
Yang menarik perhatianku adalah serutan putih dalam kuah tadi. Kujumput dengan jari.

"Kelapa tapi, kok, gak gurih?"

Eh, malah menggigit sepotong rasa jahe dan sepotong lagi rasa lengkuas.
Kuseruput kuahnya. Pedas gurih tapi tidak berminyak seperti kuah lodeh.
Ah, embuhlah bumbu apa, yang penting enak dimakan siang-siang yang panasnya luar biasa.
Dengan tusuk gigi, kucongkel si Kreco agar keluar. Kalau masih bandel, terpaksalah kuisap-isap tanpa ampun. Eh, hati-hati ada lempeng yang menutup permukaannya, jangan sampai tersedak, ya.

Usai menyisakan cangkang dalam kresek, kucari di kumpulan resep Mbak Google.
Ealah, ternyata bumbu serapah itu bumbu asli Indonesia yang bahan bakunya mudah dicari.
Bawang merah, bawang putih, cabe rawit, jahe, lengkuas yang ditumbuk halus kemudian ditumis.
Setelah harum, masukkan santan encer dan tambahkan air sesuai banyaknya kreco.
Kreco yang sudah dimandikan dengan bersih, artinya digosok semua lumut dan tanah yang melekat, kemudian ceples pantatnya dengan pisau dan keluarkan kotorannya.
Lubang di pantat ini selain membersihkan kotoran, juga memudahkan keluarnya kreci saat diisap-isap.
Setelah masak, masukkan kelapa parut (kebetulan yang aku beli kemarin kelapanya rasanya tinggal ampas doang karena tidak gurih sama sekali) lalu biarkan mendidih lagi lalu angkat.
Tentu saja jangan lupa garam dan gula jawanya dengan perbandingan seseimbang mungkin, hingga terasa gurih.

Ya, itu hasil keluyuranku pada Minggu Pagi.
Jangan takut keracunan. Kalau masaknya bener, dijamin tidak akan keracunan. Apalagi kreco ini mengandung protein dan zat-zat lain yang manfaat untuk tubuh.

Mau lebih seru?
Mari terjun ke saaah dan sungai-sungai kecil, berburu kreso.


*Sidoarjo, 7 Mei 2018
#Rumah_Sunduk_Sate


Kamis, 03 Mei 2018

Sekadar Meong





Hampir tengah malam. Kepala masih sering sedut senut datang dan pergi. Sudah dua hari ini begitu tanpa kutahu apa sebabnya. Tepat di atas telinga kanan, diikuti dengan gembuk yang sakit jika disentuh.
Ah, sudahlah. Penyakitku memang begitu. Datang dan pergi tanpa permisi. Tempatnya pun berubah berpindah tempat.
Pernah tak bisa jaga dari jongkok. Benar-benar tak mampu kaki ini mengangkat tubuh bagian atas.
Aku yang biasa loncst dan lari sebagai pemain voli, harus berhenti total. Jika kupaksa berlari, saat lari bisa melesat, tapi sesudahnya lumpuh tak berdaya, tidak kuat lagi berdiri.
Pernah juga didiagnosa sakit jantung karena ada hubungannya dengan tensi tinggi. Dada gedebag gedebug dan kadang seperti bendera berkibar.
Paling akhir yang agak miris adalah datangnya kesemutan di tangan kanan pada setiap Subuh di kamar mandi. Jalan mengantisipasinya adalah membaringkan tubuh telentang, lurus, diam, seka dengan minyak kayu putih sekujur tubuh. Untuk beberapa waktu dapat teratasi.
Puncaknya rasa semutan itu menjalar ke pundak lalu ke pipi sebelah kanan.
Aku berusaha untuk tidak panik. Tetap dengan cara yang sama penanganannya sambil kusambat.

"Berhentilah. Jika memang tiba waktuku, jangan seperti ini."

Alhamdulillah, semutan mengendur dan tubuh kembali normal.
Kuperiksakan ke dokter, katanya hanya kecapekan. Diberi obat generik pereda nyeri, pengencer darah, dan vitamin darah.
Kemudian lama aku tidak sakit apa-apa lagi.
Baru kini dengan modus baru tusukan di kepala.
Lucunya kalau dibawa beraktifitas rasa sakit itu hilang. Hla, apa harus ngerumpi terus?

Pernah juga terjadi, lututku nyeri amat sangat yang datangnya juga setiap Subuh.
Kali ini aku tak tinggal diam. Pikirku, sakit di dalam pasti ada sebabnya.
Kubawa ke klinik untuk rongent lutut dan jantung.
Hasilnya, jantung normal. Sedang pada lutut ada peradangan, bukan osteoporosis.
Diobati, sembuh.

Dengan berlalunya waktu sering aku bertanya kepada diri sendiri.

"Adakah orang lain pernah sakit seperti diriku? Datang dan pergi dengan sakit yang berbeda dan tak pernah balik lagi?"

Bhaaa...
Kuhibur diriku sendiri dengan rasa syukur.
Masih diberi sehat tanpa sakit yang berarti sampai hari ini.

Mungkin pola hidup dan pola berpikir yang menjadi penyembuhnya.
Sejak memutuskan untuk hidup ikhlas, hidup dengan kesadaran bahwa aku itu sejatinya tak punya milik apa-apa, bahkan terhadap pasangan hidup dan juga anak-anak yang kesemuanya adalah amanah untukku, hidupku terasa begitu ringan.
Keikhlasan yang melahirkan rasa sabar, pengendalian diri terhadap amarah, bicara maupun prilaku yang lebih tenang. Menghindari konflik apa pun dengan siapa pun.

Bukan tanpa sebab.
Aku bisa begitu karena pernah jatuh bangun berusaha merebut yang fana dari kehilangan.
Rasa sakit, kesedihan, penderitaan, airmata yang menyungkurkanku pada kesadaran baru.

"Takabur aku jika aku menganggap milik semua ini. Semua milik Allah SWT. Aku hanyalah pengemban amanah."

Rumah tangga yang dihiasi dengan ribut dan pertengkaran, berangsur mulai tenang.
Aku lebih banyak diam dan tak meladeni amarah yang masih sering dilontar kepadaku.
Sesakit apapun penderitaan ditimpakan, aku pasrahkan semuanya kepada Tuhanku.
Lama kelamaan aku seperti kehilangan semua nafsu dan harapan.
Harapan kepada manusia yang sering hanya menjanjikan kecewa.
Laku hidupku benar-benar hanya untuk menyelesaikan waktu yang tersisa, mengisinyagerbang  dengan banyak hal baik dan menghamba sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.

So?
Lanjut seperti ini sampai tiba waktuku.
Menjadi anggota baru alam barzah yang dingin dan sepi dirasa manusia.
Yang menakutkan saat harus memasuki gerbang kematian.
Subhanallah.
Alhamdulillah.
Astaghfirullah.

...
Sidoarjo, 3 Mei 2018
#Rumah_Sunduk_Sate



Jumat, 11 Agustus 2017

Toleransi Rukun Tetangga





           Tinggal di perumahan memang berbeda dengan tinggal di perkampungan. Hampir sebagian besar penghuninya adalah pendatang dari kota lain. Mukim sebab mendekati lokasi pekerjaan atau sebab lain, menginginkan lingkungan yang jauh dari hiruk pikuk kota, yang tentu saja juga karena pertimbangan harga perumahan di pinggiran kota jauh lebih murah dibanding perumahan di perkotaan.

           Tahun 2002 adalah awal aku menjejakkan kaki di sana setelah sebelumnya mukim di kota kelahiranku, yang berjarak tempuh sekitar lima jam perjalanan.

            Tetangga silih berganti, apalagi setelah kejadian munculnya fenomena lumpur yang dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo. Beberapa saat, rumah banyak ditinggalkan penghuninya dan sebagian ada yang dijual dengan harga murah karena khawatir lumpur mengalir ke Utara. Perumahan kami hanya berjarak sekitar tiga atau empat kilometer dari pusat semburan. Riskan memang. Tapi dengan berlalunya waktu, kehidupan kembali normal, harga rumah malah melonjak.

            Tinggal di perumahan memang harus siap mental menghadapi tetangga dari berbagai suku dan agama. Madura, Jawa, Manado, Ambon, berinteraksi bersama. Bahkan agama pun berdampingan antara Hindu, Islam, Kristen. Hidup begitu indah dalam toleransi.

            Memang pernah terjadi, ada warga yang hendak mendirikan gereja di wilayah RT, di tengah mayoritas umat muslim. Sejenak agak menegang, tapi bijaknya pengurus RT, RW, dapat mengantisipasi perpecahan dan menyesaikannya dengan damai.

           Seperti halal bihalal tahun 2017, sengaja keluar dari lingkungan perumahan, diadakan di Trawas Mojokerto yang tidak seberapa jauh dari Sidoarjo.

           Semua warga berangkat, dari bapak, ibu sampai anak-anak. Baik yang muslim maupun yang beragama lain. Pada puncak acara halal bihalal, semua saling bermaafan, bercengkerama dan mengisi dua hari satu malam dengan karaokean, senam, jalan sehat, bahkan nyebur bareng di kolam renang villa.

           Sungguh kebersamaan yang indah. Semoga akan bisa begini terus. Paling tidak, Rukun Tetangga 06 Rukum Warga 05 Perumahan Taman Candiloka Sidoarjo bisa menjadi miniatur Indonesia damai yang selalu menjunjung toleransi. Semoga. Aamiin.
















                                                   *Sampai jumpa pada acara toleransi yang lain

            

           

Senin, 07 Agustus 2017

Kembalinya Sang Pemanggil




Review novel Fantasytopia: Pulau Larangan dan Si Iblis Putih



Intisari dan Telaahnya

          Tiga tahun fantasy (delapan tahun untuk dunia nyata) sudah berlalu. Nazarage, pangeran dari Negeri Kegelapan yang dikurung di penjara bawah tanah negeri Elfunity, mendapat kunjungan rahasia dari seorang perempuan misterius. Ngapain? Yang jelas bukan untuk diajak berkencan, tetapi membakar hati Nazarage agar bangkit kembali menghancurkan negeri yang dipimpin oleh Ratu Meraelf, kerabatnya dari leluhur yang lebih muda dari leluhur Nazarage.

          Sayangnya hasutan si Perempuan Misterius itu tak mendapat respon dari Nazarage yang rupanya sudah bertobat, menyadari perbuatannya pada masa lalu yang membawa kerusakan dan korban jiwa yang tak sedikit. Usahanya untuk menghancurkan negeri Elfunity dengan menguasai pusaka-pusakanya, justru memancing Sang Pemusnah, monster naga, yang bangkit sebab terpanggil oleh salah satu pusakanya yang dinamai Sang Pemanggil.

          Untuk menyambung cerita dengan novel sebelumnya, Akhmad, yang kini sudah duduk di bangku SMA, dikisahkan menjalin cinta dengan Silva,  teman satu SMA-nya. Kisah seperti sinetron pun dijalin (khusus untuk kisah cinta ala anak gedongan ini dalam rasaku seperti dipaksakan).

Penulis hanya ingin berkabar bahwa di jantung Akhmad masih berdiam Sang Pemanggil. Tersurat saat Akhmad kecebur kolam kala berantem dengan Danny, selingkuhan Silva. Dadanya menyentak hebat, seakan ada makhluk hidup yang berusaha keluar dari dalam tubuhnya. Pupil dan iris matanya berubah-ubah bentuk dan warna dengan cepat (halaman 51). Wajah Akhmad tanpa ekspresi, kelam, dan mata kirinya berganti warna; kuning berkilat pada iris, hijau gelap pada pupilnya. Bahkan, pupil mata kiri itu bentuknya lonjong mirip pupil mata ular, sedangkan mata kanannya masih tetap normal (halaman 52)

Novel ini ditulis dengan gaya selang seling antara kisah di negeri Elfunity dan kisah Akhmad yang kembali ke alam fantasy.

Di alam fantasy, seluruh kekuatan sedang dikerahkan untuk memburu perempuan misterius yang menyandera Ramelf, peri kupu-kupu yang mampu membaca aksara kuno, dan adiknya Farshaelf. Dengan kemampuna Ramelf, gerbang gaib yang melindungi pulau larangan, mampu ditembus oleh si Misterius yang kemudian dikenali dengan nama Zupaelf. Siapa Zupaelf?

Gadis pembuat onar karena merasa punya hak atas negeri Elfunity, sementara saudara-saudara seayah, tak pernah memperhitungkan dan menghargainya.

Hampir tiga perempat tebal buku ini mengisahkan pertarungan pemburu Zupaelf  dan perjuangan Zupaelf sendiri, melawan makhluk-makhluk ganas yang menghalangi jalannya menemukan gua tempat monster vampire, monster kuno yang nyaris hanya bisa dikenal dalam kitab-kitab kuno. Iblis Putih, Na’ag Ranck namanya.

Ando Ajo dengan kekuatan pengetahuan akan ilmu Fauna, berfantasy menghadirkan kembali tokoh-tokoh yang pernah dihadirkan di novel terdahulu. Ordo, family, terungkap dengan ciri-ciri fisiknya. Terlalu banyak nama disebut. Bikin pusing kalau harus mengingat nama latinnya. Cukuplah hanya dengan mengingat nama panggilan dan wujud fisiknya saja jika ingin terhanyut dalam kisahnya.

Ahmad, yang menjadi tokoh sentral pada novel terdahulu, pada novel ini mendapat perhatian sedikit. Ia masuk ke dalam cerita lewat peristiwa kecelakaan pesawat yang hendak membawanya ke Lembah Anai, Sumatra Barat. Untuk manis-manis cerita, ia bertemu dengan Anjha yang kemudian bertualang bersamanya di dunia Fantasy. Untuk ukuran manusia yang belum pernah bertemu dunia fantasy, tokoh Anjha terkesan kurang ‘terpesona dan takut’ dengan makhluk-makhluk asing yang belum pernah dilihat sebelumnya. Andai Ajo membuat karakter Anjha sebagai gadis yang penakut, pasti kisah akan lebih yahud, nih. Demikian pula dengan hadirnya Johan, kisah fantasynya jadi kurang greget, dan terkesan seperti cerita dunia nyata dengan kostum hewan-hewan aneh (bebas tafsir, ya, Ajo)

Adegan paling dramatis untuk dua sejoli ini adalah ketika Ahmad memberikan napas bantuan kepada Anjha yang pingsan dan telentang di air menghadap langit. Hufftt!  (halaman 197)

Bagaimana kisah selanjutnya?

Kisah semakin seru karena hadirnya tokoh-tokoh baru. Satu di antaranya punya ilmu yang mampu mengeluarkan Sang Pemanggil dari jantung Ahmad tanpa luka sedikit pun.

Zupaelf, apakah bisa mencapai tujuan awal membuat onar negeri Elfunity? Ataukah ia ‘luluh’ pada keadaan tak terduga?

Kisah percintaan bukan hanya Ahmad alami, tetapi juga dialami oleh tokoh-tokoh Negeri Elfunity. Mengapa Ratu Meraelf menyerahkan tampuk kerajaan kepada adiknya, pangeran Hawelf, setelah tiga tahun rajin mengunjungi Nazarage di penjara bawah tanah? Kepada siapa Hawelf menjatuhkan pilihan hatinya? Siapakah ksatria muda, tampan dari Pulau Larangan yang akan meramaikan dunia fantasy berikutnya?

Secara keseluruhan ceritanya menarik, hanya penokohan yang terlalu banyak membutuhkan kesabaran untuk bisa mencernanya.

Belajar sabar? Baca, yuk, novel keren ini.  Fantasytopia: Pulau Larangan dan Si Iblis Putih karya Ando Ajo. Editor: Sekar Mayang, layout: Liez Mutiara, Desain sampul: Domel. Diterbitkan oleh Penerbit Jentera Pustaka (Mata Pena Group) padaOktober 2016. Eh, penulis buku ini multi talenta, lho! Ia juga membuat sendiri ilustrasi isi dan sampulnya. Wuiihh, makin keren!

Mau yang seperti ini? Beli dan minta sendiri tanda tangan penulisnya.




         



Jumat, 14 Juli 2017

Kuliner Daerah


Jawa Timur punya kuliner yang menjadi ciri khas daerah.
Seperti daerah Madiun, terkenal dengan brem, camilan yang dibuat dari fermentasi beras.
Dari tahun ke tahun selalu menampilkan brem original.
Seiring berkembangnya waktu, brem juga mengalami rasa baru.
Disalut coklat, dari luar tampak seperti coklat blog. Tapi ketika dibelah, di dalamnya ada brem original.
Rasanya?
Memang butuh sedikit waktu untuk mengenali keberadaan bremnya.
Krenyes-krenyes yang menjadi cirinya memang sedikit kalah dari legit manis coklatnya.
Tapi jika benar-benar dinikmati, rasa bremnya akan muncul, meski tidak sekeras originalnya.
Sebagai alternatif selang-seling rasa, masih okelah.
Yang jelas jangan tertipu tampilan jika hanya diberi grenjengan tanpa label, karena tampilannya murni persis tampilan coklat.
Boleh dicoba menemukan di toko khas oleh-oleh daerah di mana pun berada.
...
#kulinerdaerahMadiun