Minggu, 06 Mei 2018
KRECO SERAPAH
Masyarakat Jawa Timur tidaklah asing dengan sejenis molusca yang banyak ditemui diperairan dangkal seperti sungai-sungai kecil dan sawah.
Nyaris seperti bekicot tapi lebih bulat dan ukurannya sebesar ibu jari orang dewasa. Cangkangnya hitam berlumut hijau.
Di pasar banyak dijual 'telanjang', artinya sudah dibuang cangkangnya. Hati-hati jangan salah dengan keong emas.
Cara membedakan dengan keong emas, pada perut keong emas ada gumpalan bulat kecil isi perut. Sedang pada kreco gumpalan bulat berisi kotoran kekuningan itu tidak ada.
Mungkin untuk afdolnya, beli saja kreco yang masih bercangkang.
Minggu pagi, keluyuran ke Limgkar Barat Sidoarjo yang sepanjang jalan dari depan Mc D sampai ujung jalan menuju Pasar Larangan dipenuhi pedagang kaki lima.
Pakaian, alat masak, sepatu, buah, pecel, makanan siap saji sampai sempak ada di sana.
Nah, kulirik di antara macetnya kendaraan lewat yang nyaris semuanya melongok-longok dagangan, ada ibu yang sudah sepuh menyandarkan sepeda motor bebek.
Pada boncengannya ditancap sebuah banner kecil bertuliskan KRECO SERAPAH.
Ah, penasaran aku.
Baru sekali ini aku membcanya. Apa sih, serapah itu. Mosok sumpah serapah?
Aku menepi dan langsung memesan satu porsi bungkus.
"Pinten, Bu?"
"Sedasa ewu, Ning!" jawabnya sambil mengambil selembar plastik satu kiloan.
Tangannya mengaduk panci penuh kreco dengan sebuah irus besar.
Kuperhatikan, gerombolan kreco berenang di dalam kuah berselimut putih-putih entah parutan apa.
Dituangkan dua irus kreco kemudian diikat begitu saja tanpa karet.
Dimasukkan dalam kresek dilampiri sebuah tisu kuning dalam plastik yang disemat dua buah tusuk gigi.
"Hmmm, enak nih," gumamku sambil membayangkan rasanya seperti apa.
Sampai kubuka plastiknya di rumah, aku belum tahu rasanya seperti apa.
Yang menarik perhatianku adalah serutan putih dalam kuah tadi. Kujumput dengan jari.
"Kelapa tapi, kok, gak gurih?"
Eh, malah menggigit sepotong rasa jahe dan sepotong lagi rasa lengkuas.
Kuseruput kuahnya. Pedas gurih tapi tidak berminyak seperti kuah lodeh.
Ah, embuhlah bumbu apa, yang penting enak dimakan siang-siang yang panasnya luar biasa.
Dengan tusuk gigi, kucongkel si Kreco agar keluar. Kalau masih bandel, terpaksalah kuisap-isap tanpa ampun. Eh, hati-hati ada lempeng yang menutup permukaannya, jangan sampai tersedak, ya.
Usai menyisakan cangkang dalam kresek, kucari di kumpulan resep Mbak Google.
Ealah, ternyata bumbu serapah itu bumbu asli Indonesia yang bahan bakunya mudah dicari.
Bawang merah, bawang putih, cabe rawit, jahe, lengkuas yang ditumbuk halus kemudian ditumis.
Setelah harum, masukkan santan encer dan tambahkan air sesuai banyaknya kreco.
Kreco yang sudah dimandikan dengan bersih, artinya digosok semua lumut dan tanah yang melekat, kemudian ceples pantatnya dengan pisau dan keluarkan kotorannya.
Lubang di pantat ini selain membersihkan kotoran, juga memudahkan keluarnya kreci saat diisap-isap.
Setelah masak, masukkan kelapa parut (kebetulan yang aku beli kemarin kelapanya rasanya tinggal ampas doang karena tidak gurih sama sekali) lalu biarkan mendidih lagi lalu angkat.
Tentu saja jangan lupa garam dan gula jawanya dengan perbandingan seseimbang mungkin, hingga terasa gurih.
Ya, itu hasil keluyuranku pada Minggu Pagi.
Jangan takut keracunan. Kalau masaknya bener, dijamin tidak akan keracunan. Apalagi kreco ini mengandung protein dan zat-zat lain yang manfaat untuk tubuh.
Mau lebih seru?
Mari terjun ke saaah dan sungai-sungai kecil, berburu kreso.
*Sidoarjo, 7 Mei 2018
#Rumah_Sunduk_Sate
Kamis, 03 Mei 2018
Sekadar Meong
Hampir tengah malam. Kepala masih sering sedut senut datang dan pergi. Sudah dua hari ini begitu tanpa kutahu apa sebabnya. Tepat di atas telinga kanan, diikuti dengan gembuk yang sakit jika disentuh.
Ah, sudahlah. Penyakitku memang begitu. Datang dan pergi tanpa permisi. Tempatnya pun berubah berpindah tempat.
Pernah tak bisa jaga dari jongkok. Benar-benar tak mampu kaki ini mengangkat tubuh bagian atas.
Aku yang biasa loncst dan lari sebagai pemain voli, harus berhenti total. Jika kupaksa berlari, saat lari bisa melesat, tapi sesudahnya lumpuh tak berdaya, tidak kuat lagi berdiri.
Pernah juga didiagnosa sakit jantung karena ada hubungannya dengan tensi tinggi. Dada gedebag gedebug dan kadang seperti bendera berkibar.
Paling akhir yang agak miris adalah datangnya kesemutan di tangan kanan pada setiap Subuh di kamar mandi. Jalan mengantisipasinya adalah membaringkan tubuh telentang, lurus, diam, seka dengan minyak kayu putih sekujur tubuh. Untuk beberapa waktu dapat teratasi.
Puncaknya rasa semutan itu menjalar ke pundak lalu ke pipi sebelah kanan.
Aku berusaha untuk tidak panik. Tetap dengan cara yang sama penanganannya sambil kusambat.
"Berhentilah. Jika memang tiba waktuku, jangan seperti ini."
Alhamdulillah, semutan mengendur dan tubuh kembali normal.
Kuperiksakan ke dokter, katanya hanya kecapekan. Diberi obat generik pereda nyeri, pengencer darah, dan vitamin darah.
Kemudian lama aku tidak sakit apa-apa lagi.
Baru kini dengan modus baru tusukan di kepala.
Lucunya kalau dibawa beraktifitas rasa sakit itu hilang. Hla, apa harus ngerumpi terus?
Pernah juga terjadi, lututku nyeri amat sangat yang datangnya juga setiap Subuh.
Kali ini aku tak tinggal diam. Pikirku, sakit di dalam pasti ada sebabnya.
Kubawa ke klinik untuk rongent lutut dan jantung.
Hasilnya, jantung normal. Sedang pada lutut ada peradangan, bukan osteoporosis.
Diobati, sembuh.
Dengan berlalunya waktu sering aku bertanya kepada diri sendiri.
"Adakah orang lain pernah sakit seperti diriku? Datang dan pergi dengan sakit yang berbeda dan tak pernah balik lagi?"
Bhaaa...
Kuhibur diriku sendiri dengan rasa syukur.
Masih diberi sehat tanpa sakit yang berarti sampai hari ini.
Mungkin pola hidup dan pola berpikir yang menjadi penyembuhnya.
Sejak memutuskan untuk hidup ikhlas, hidup dengan kesadaran bahwa aku itu sejatinya tak punya milik apa-apa, bahkan terhadap pasangan hidup dan juga anak-anak yang kesemuanya adalah amanah untukku, hidupku terasa begitu ringan.
Keikhlasan yang melahirkan rasa sabar, pengendalian diri terhadap amarah, bicara maupun prilaku yang lebih tenang. Menghindari konflik apa pun dengan siapa pun.
Bukan tanpa sebab.
Aku bisa begitu karena pernah jatuh bangun berusaha merebut yang fana dari kehilangan.
Rasa sakit, kesedihan, penderitaan, airmata yang menyungkurkanku pada kesadaran baru.
"Takabur aku jika aku menganggap milik semua ini. Semua milik Allah SWT. Aku hanyalah pengemban amanah."
Rumah tangga yang dihiasi dengan ribut dan pertengkaran, berangsur mulai tenang.
Aku lebih banyak diam dan tak meladeni amarah yang masih sering dilontar kepadaku.
Sesakit apapun penderitaan ditimpakan, aku pasrahkan semuanya kepada Tuhanku.
Lama kelamaan aku seperti kehilangan semua nafsu dan harapan.
Harapan kepada manusia yang sering hanya menjanjikan kecewa.
Laku hidupku benar-benar hanya untuk menyelesaikan waktu yang tersisa, mengisinyagerbang dengan banyak hal baik dan menghamba sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.
So?
Lanjut seperti ini sampai tiba waktuku.
Menjadi anggota baru alam barzah yang dingin dan sepi dirasa manusia.
Yang menakutkan saat harus memasuki gerbang kematian.
Subhanallah.
Alhamdulillah.
Astaghfirullah.
...
Sidoarjo, 3 Mei 2018
#Rumah_Sunduk_Sate
Jumat, 11 Agustus 2017
Toleransi Rukun Tetangga
Tinggal di perumahan memang berbeda dengan tinggal di perkampungan. Hampir sebagian besar penghuninya adalah pendatang dari kota lain. Mukim sebab mendekati lokasi pekerjaan atau sebab lain, menginginkan lingkungan yang jauh dari hiruk pikuk kota, yang tentu saja juga karena pertimbangan harga perumahan di pinggiran kota jauh lebih murah dibanding perumahan di perkotaan.
Tahun 2002 adalah awal aku menjejakkan kaki di sana setelah sebelumnya mukim di kota kelahiranku, yang berjarak tempuh sekitar lima jam perjalanan.
Tetangga silih berganti, apalagi setelah kejadian munculnya fenomena lumpur yang dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo. Beberapa saat, rumah banyak ditinggalkan penghuninya dan sebagian ada yang dijual dengan harga murah karena khawatir lumpur mengalir ke Utara. Perumahan kami hanya berjarak sekitar tiga atau empat kilometer dari pusat semburan. Riskan memang. Tapi dengan berlalunya waktu, kehidupan kembali normal, harga rumah malah melonjak.
Tinggal di perumahan memang harus siap mental menghadapi tetangga dari berbagai suku dan agama. Madura, Jawa, Manado, Ambon, berinteraksi bersama. Bahkan agama pun berdampingan antara Hindu, Islam, Kristen. Hidup begitu indah dalam toleransi.
Memang pernah terjadi, ada warga yang hendak mendirikan gereja di wilayah RT, di tengah mayoritas umat muslim. Sejenak agak menegang, tapi bijaknya pengurus RT, RW, dapat mengantisipasi perpecahan dan menyesaikannya dengan damai.
Seperti halal bihalal tahun 2017, sengaja keluar dari lingkungan perumahan, diadakan di Trawas Mojokerto yang tidak seberapa jauh dari Sidoarjo.
Semua warga berangkat, dari bapak, ibu sampai anak-anak. Baik yang muslim maupun yang beragama lain. Pada puncak acara halal bihalal, semua saling bermaafan, bercengkerama dan mengisi dua hari satu malam dengan karaokean, senam, jalan sehat, bahkan nyebur bareng di kolam renang villa.
Sungguh kebersamaan yang indah. Semoga akan bisa begini terus. Paling tidak, Rukun Tetangga 06 Rukum Warga 05 Perumahan Taman Candiloka Sidoarjo bisa menjadi miniatur Indonesia damai yang selalu menjunjung toleransi. Semoga. Aamiin.
*Sampai jumpa pada acara toleransi yang lain
Senin, 07 Agustus 2017
Kembalinya Sang Pemanggil
Review
novel Fantasytopia: Pulau Larangan dan Si Iblis Putih
Intisari
dan Telaahnya
Tiga tahun fantasy (delapan tahun untuk dunia nyata) sudah
berlalu. Nazarage, pangeran dari Negeri Kegelapan yang dikurung di penjara
bawah tanah negeri Elfunity, mendapat kunjungan rahasia dari seorang perempuan
misterius. Ngapain? Yang jelas bukan untuk diajak berkencan, tetapi membakar
hati Nazarage agar bangkit kembali menghancurkan negeri yang dipimpin oleh Ratu
Meraelf, kerabatnya dari leluhur yang lebih muda dari leluhur Nazarage.
Sayangnya hasutan si Perempuan Misterius itu tak mendapat
respon dari Nazarage yang rupanya sudah bertobat, menyadari perbuatannya pada
masa lalu yang membawa kerusakan dan korban jiwa yang tak sedikit. Usahanya
untuk menghancurkan negeri Elfunity dengan menguasai pusaka-pusakanya, justru
memancing Sang Pemusnah, monster naga, yang bangkit sebab terpanggil oleh salah
satu pusakanya yang dinamai Sang Pemanggil.
Untuk menyambung cerita dengan novel sebelumnya, Akhmad,
yang kini sudah duduk di bangku SMA, dikisahkan menjalin cinta dengan
Silva, teman satu SMA-nya. Kisah seperti
sinetron pun dijalin (khusus untuk kisah cinta ala anak gedongan ini dalam
rasaku seperti dipaksakan).
Penulis
hanya ingin berkabar bahwa di jantung Akhmad masih berdiam Sang Pemanggil.
Tersurat saat Akhmad kecebur kolam kala berantem dengan Danny, selingkuhan
Silva. Dadanya menyentak hebat, seakan
ada makhluk hidup yang berusaha keluar dari dalam tubuhnya. Pupil dan iris
matanya berubah-ubah bentuk dan warna dengan cepat (halaman 51). Wajah Akhmad tanpa ekspresi, kelam, dan
mata kirinya berganti warna; kuning berkilat pada iris, hijau gelap pada
pupilnya. Bahkan, pupil mata kiri itu bentuknya lonjong mirip pupil mata ular,
sedangkan mata kanannya masih tetap normal (halaman 52)
Novel
ini ditulis dengan gaya selang seling antara kisah di negeri Elfunity dan kisah
Akhmad yang kembali ke alam fantasy.
Di alam
fantasy, seluruh kekuatan sedang dikerahkan untuk memburu perempuan misterius
yang menyandera Ramelf, peri kupu-kupu yang mampu membaca aksara kuno, dan
adiknya Farshaelf. Dengan kemampuna Ramelf, gerbang gaib yang melindungi pulau
larangan, mampu ditembus oleh si Misterius yang kemudian dikenali dengan nama
Zupaelf. Siapa Zupaelf?
Gadis
pembuat onar karena merasa punya hak atas negeri Elfunity, sementara
saudara-saudara seayah, tak pernah memperhitungkan dan menghargainya.
Hampir
tiga perempat tebal buku ini mengisahkan pertarungan pemburu Zupaelf dan perjuangan Zupaelf sendiri, melawan makhluk-makhluk ganas yang
menghalangi jalannya menemukan gua tempat monster vampire, monster kuno yang
nyaris hanya bisa dikenal dalam kitab-kitab kuno. Iblis Putih, Na’ag Ranck
namanya.
Ando
Ajo dengan kekuatan pengetahuan akan ilmu Fauna, berfantasy menghadirkan
kembali tokoh-tokoh yang pernah dihadirkan di novel terdahulu. Ordo, family,
terungkap dengan ciri-ciri fisiknya. Terlalu banyak nama disebut. Bikin pusing
kalau harus mengingat nama latinnya. Cukuplah hanya dengan mengingat nama
panggilan dan wujud fisiknya saja jika ingin terhanyut dalam kisahnya.
Ahmad,
yang menjadi tokoh sentral pada novel terdahulu, pada novel ini mendapat
perhatian sedikit. Ia masuk ke dalam cerita lewat peristiwa kecelakaan pesawat
yang hendak membawanya ke Lembah Anai, Sumatra Barat. Untuk manis-manis cerita,
ia bertemu dengan Anjha yang kemudian bertualang bersamanya di dunia Fantasy.
Untuk ukuran manusia yang belum pernah bertemu dunia fantasy, tokoh Anjha
terkesan kurang ‘terpesona dan takut’ dengan makhluk-makhluk asing yang belum
pernah dilihat sebelumnya. Andai Ajo membuat karakter Anjha sebagai gadis yang
penakut, pasti kisah akan lebih yahud, nih. Demikian pula dengan hadirnya
Johan, kisah fantasynya jadi kurang greget, dan terkesan seperti cerita dunia
nyata dengan kostum hewan-hewan aneh (bebas tafsir, ya, Ajo)
Adegan
paling dramatis untuk dua sejoli ini adalah ketika Ahmad memberikan napas
bantuan kepada Anjha yang pingsan dan telentang di air menghadap langit.
Hufftt! (halaman 197)
Bagaimana
kisah selanjutnya?
Kisah
semakin seru karena hadirnya tokoh-tokoh baru. Satu di antaranya punya ilmu
yang mampu mengeluarkan Sang Pemanggil dari jantung Ahmad tanpa luka sedikit
pun.
Zupaelf,
apakah bisa mencapai tujuan awal membuat onar negeri Elfunity? Ataukah ia
‘luluh’ pada keadaan tak terduga?
Kisah
percintaan bukan hanya Ahmad alami, tetapi juga dialami oleh tokoh-tokoh Negeri
Elfunity. Mengapa Ratu Meraelf menyerahkan tampuk kerajaan kepada adiknya,
pangeran Hawelf, setelah tiga tahun rajin mengunjungi Nazarage di penjara bawah
tanah? Kepada siapa Hawelf menjatuhkan pilihan hatinya? Siapakah ksatria muda,
tampan dari Pulau Larangan yang akan meramaikan dunia fantasy berikutnya?
Secara
keseluruhan ceritanya menarik, hanya penokohan yang terlalu banyak membutuhkan
kesabaran untuk bisa mencernanya.
Belajar
sabar? Baca, yuk, novel keren ini. Fantasytopia: Pulau Larangan dan Si Iblis
Putih karya Ando Ajo. Editor: Sekar Mayang, layout: Liez Mutiara, Desain
sampul: Domel. Diterbitkan oleh Penerbit Jentera Pustaka (Mata Pena Group)
padaOktober 2016. Eh, penulis buku ini multi talenta, lho! Ia juga membuat
sendiri ilustrasi isi dan sampulnya. Wuiihh, makin keren!
Mau yang seperti ini? Beli dan minta sendiri tanda tangan penulisnya.
Jumat, 14 Juli 2017
Kuliner Daerah
Jawa Timur punya kuliner yang menjadi ciri khas daerah.
Seperti daerah Madiun, terkenal dengan brem, camilan yang dibuat dari fermentasi beras.
Dari tahun ke tahun selalu menampilkan brem original.
Seiring berkembangnya waktu, brem juga mengalami rasa baru.
Disalut coklat, dari luar tampak seperti coklat blog. Tapi ketika dibelah, di dalamnya ada brem original.
Rasanya?
Memang butuh sedikit waktu untuk mengenali keberadaan bremnya.
Krenyes-krenyes yang menjadi cirinya memang sedikit kalah dari legit manis coklatnya.
Tapi jika benar-benar dinikmati, rasa bremnya akan muncul, meski tidak sekeras originalnya.
Sebagai alternatif selang-seling rasa, masih okelah.
Yang jelas jangan tertipu tampilan jika hanya diberi grenjengan tanpa label, karena tampilannya murni persis tampilan coklat.
Boleh dicoba menemukan di toko khas oleh-oleh daerah di mana pun berada.
...
#kulinerdaerahMadiun
Kamis, 24 November 2016
[Fantasi] Mencari Negeri Fantasi
sumber gambar:Google
Kepak sayap silih berganti dari yang
terdengar berat sampai yang lembut, seperti para penerjun mendaratkan kakinya
di pelataran samping dapur.
Puluhan merpati mendarat satu demi
satu, meninggalkan dahan pohon mangga demi memperebutkan butiran beras yang
ditebar oleh tangan seorang gadis cilik berumur
sembilan tahunan.
Awalnya, merpati itu hanya ada tiga
pasang dari jenis berbeda. Modena, King Pigeon, dan merpati balap. Di antara
ketiga jenis itu, Modena paling menggemaskan karena badannya buntet, ekornya
pendek, sayapnya berwarna colat, kepala hitam, punggung dan badannya berwarna
putih. Sedang merpati balap mengagumkan saat terbang melintas awan. Melesat secepat
kilat dengan tubuh rampingnya, meski untuk warna biasa saja. Leher hijau
kebiruan cenderung ungu saat diterpa sinar matahari, selebihnya hitam atau
abu-abu. Yang paling seksi King Pigeon. Badannya hampir sebesar ayam, kepaknya
paling keras kalau terbang tiba-tiba karena terkejut.
Perkembangbiakannya begitu cepat,
terutama untuk jenis merpati balap. Semakin bertambah, karena ada juga merpati
tak diundang. Tiba-tiba saja sudah bergabung dalam kerumunan yang ada dan tak
mau pergi lagi. Pun sebaliknya, harus ikhlas kalau sewaktu-waktu jumlahnya
berkurang karena ada yang pergi dan tak kembali. Risiko memelihara burung yang
dibiarkan bebas tanpa sangkar.
Kirani, gadis kecil penebar beras,
sangat menyukai merpati-merpatinya. Tak ada waktu terbuang tanpa bercengkerama
dengan mereka. Bahkan sering ia berbicara seolah mereka adalah sahabatnya.
“Dena, ayo erami telurmu. Jangan main
terus,” celetuknya sambil menggiring emak Modena yang meninggalkan dua telurnya
di sarang sekadar bercumbu dengan jantannya. Modena ini agak malas mengerami
telurnya, barangkali karena mereka pasangan yang masih muda, masih suka
bercumbu saja.
“Hush..hush!” Kirani menghalau salah
satu pasangan merpati balap yang berusaha mengambil sarang merpati lain yang
sedang mengerami telurnya. Kadang memang seperti itu, ada merpati yang tak bisa
bertelur meski sudah bercinta berkali-kali, dan berusaha merampok sarang lain
untuk dierami.
Hingga suatu hari, Modena malas lagi
untuk mengerami telurnya. Kirani berusaha menggiringnya agar kembali ke sarang.
Tapi ada yang janggal pada telur yang ditinggalkan.
“Hah, apa ini?” Ia mengambil sebutir
telur lain di antara dua telur yang ada. Seperti telur, tapi berat dan keras.
Warnanya hijau kebiru-biruan. Seketika ia memanggil ibunya.
“Ibuk…Ibuk…Ibuk….”
Panggilan itu seperti kata-kata
mantra.
Tiba-tiba langit berpendar. Kirani seperti berada dalam
gelembung transparan yang sangat besar. Ia bisa melihat dapur tempat ia biasa
menebar beras ke pelataran, tapi tak bisa melewati sekat yang seperti karet
tipis. Ia terus memanggil ibunya, tapi suaranya hanya memantul seolah berputar
dalam gelembung itu.
Belum hilang rasa takutnya, tiba-tiba
di hadapannya berdiri seorang pemuda berpakaian necis, jas coklat dipadu padan
dengan kemeja dan celana putih, dengan sepasang sayap kokoh di punggungnya.
Sepatu? Ah, kakinya bukan layaknya kaki manusia, tapi mirip kaki merpati. Empat
jari dengan cakar yang tidak begitu tajam berwarna merah.
Kirani ingin menangis. Tapi ia
menahannya dan menguatkan hati untuk berani.
“Kamu siapa?” Ia bertanya sambil tak
henti menatap kaki pemuda itu.
“Kamu tidak mengenaliku?” Pemuda itu
balik bertanya, tersenyum lucu, dan memutar tubuhnya sambil menderuk seperti
suara merpati yang berusaha menarik perhatian lawan jenisnya.
“Hah? Kamu, Modena?” Kirani segera
ingat tingkah Modena, merpati yang paling centil di antara merpati
peliharaannya.
“Iya.” Modena menjawab singkat tapi
tak membiarkan senyuman pergi dari bibirnya yang mungil.
Melihat Kirani masih bingung dengan
keberadaannya, Modena mengajaknya naik ke sebuah rumah sederhana, semacam rumah
dengan tangga tinggi di atas pohon mangga. Ternyata di dalam rumah ada sosok
perempuan seperti Modena. Gaunnya putih dipadu padan dengan kardigan coklat. Ia
sedang menyuapi sepasang anak kembar, lelaki dan perempuan. Eh, jantan dan
betina tepatnya. Dan tentunya, kakinya semua sama dengan Modena, kaki burung.
“Ini anak-anakmu? Bukankah kalian
berdua malas mengerami telur dan hanya sibuk bermain saja?” Kirani sudah tidak
takut lagi dan mencoba mencairkan suasana dengan menggoda keduanya.
“Itu kan dulu, waktu kami baru
bertemu. Masih muda dan inginnya bermain terus.” Modena dan istrinya tersipu.
Kirani lebih berani untuk menatap
keadaan sekitarnya.
“Ini aku di mana? Negeri burung?
Kenapa aku bisa ke sini?” Seperti gumam, pertanyaan-pertanyaan itu mengalir
tanpa putus.
Modena dan istrinya saling pandang.
Membiarkan Kirani berjalan ke seluruh sudut rumah. Melihat ke luar dan
memuaskan keingintahuannya.
Seolah lupa pada pertanyaannya,
Kirani begitu takjub melihat aktifitas di luar rumah. Orang-orang berpakaian
seperti tampilan jenis-jenis merpati dengan sayap di punggungnya. Mereka ada
yang sibuk bercocok tanam, ada yang memipil jagung, ada yang memisahkan gabah
dari jeraminya. Ada yang mengasuh anak, ada yang berkejaran bersenda gurau.
Riuh sekali, seperti suara merpati di rumah saat Kirani bermain bersama mereka.
“Ini negeri peri merpati, Kirani.”
Modena mulai menjawab pertanyaan Kirani yang terlihat mulai bisa beradaptasi
dengan lingkungan barunya.
“Coba buka genggamanmu. Itu adalah
batu kunci, pembuka gerbang dunia peri merpati. Sengaja sesepuh kami memberikan
itu kepadamu, karena kamu begitu peduli kepada kami selama ini.”
Perlahan Kirani membuka genggamannya.
Batu hijau kebiruan sebesar telur merpati, berpendar diterpa sinar matahari
yang masuk dari jendela. Ia timang dan amati dari berbagai sudut. Pendarnya
semakin berkilau di tangan mungilnya.
Tiba-tiba ia ingat sesuatu.
“Benar ini kunci pembuka gerbang
dunia peri?” Modena hanya mengangguk tanpa mengerti mengapa Kirani begitu
gembira menerima batu telur itu.
“Berarti aku sudah sampai di negeri peri, negeri fantasy. Modena, apakah negeri ini dipimpin oleh seorang ratu dari bangsa
bersayap sepertimu yang bernama Ratu Meraelf?” Mata Kirani berbinar. Terbayang
wajah seorang ratu cantik pemimpin negeri besar dengan rakyat dari berbagai
jenis binatang darat, udara, dan laut.
“Negeri ini besar sekali Kirani. Aku
tidak tahu siapa pemimpin negeri ini. Yang aku tahu hanyalah para sesepuh jenis
merpati yang memimpin kami turun temurun.”
“Ah, kau, Modena. Aku membacanya. Ada
buku yang menceritakan dunia yang kita injak seperti sekarang ini.”
Kirani
tidak tampak seperti gadis sembilan tahun. Ia memang gemar membaca buku. Selain
rajin mengunjungi perpustakaan di balai desa, ia juga suka membaca buku-buku
milik ibunya. Ibunya seorang penulis, karenanya Kirani mewarisi bakat ibunya,
menyukai dunia literasi.
“Negeri itu dekat dengan pantai
Utara, Modena. Ada seorang anak yang berhasil masuk ke sana, lewat pantai Utara
Jakarta. Ah, ya, nama negerinya Kerajaan Elfunity.” Kirani bersemangat sekali.
“Modena, aku ingin sekali pergi ke
kerajaan Elfunity. Mau, kan, kamu mengantarku mencarinya?” Kirani memandang
Modena dan istrinya bergantian. Penuh harap.
“Aku tidak bisa mengantarmu.
Anak-anakku masih kecil. Aku harus mengajari mereka mencari makan, terbang
sendiri, dan melindungi mereka dari makhluk pengganggu lainnya. Maafkan aku,
Kirani.”
Kirani sedikit kecewa. Tapi matanya
kembali cerah saat Modena berjanji mencarikan jalan agar ia bisa menemukan
Kerajaan Elfunity.
Modena mengajak Kirani mengunjungi
kediaman sesepuh merpati.
Tidak begitu jauh dari rumah Modena,
sebuah rumah dengan tangga yang lebih tinggi dari rumah-rumah di sekitarnya,
tampak sudah begitu tua dibangun pada dahan sebuah pohon kenari.
“Assalamu’alaikum, Pak Puh,”ucap
Modena di depan pintu tak berdaun.
“Wa’alaikumsalam. Masuklah, Anak Muda.”
Suara bergetar lebih dari seorang menjawab salam Modena.
Kirani menggumamkan ucapan salam sebagaimana
Modena. Ia menempel di belakang Modena, mengintip sedikit takut pada tiga kakek yang duduk berjajar menghadap
pintu. Sayap-sayapnya tidak sekokoh sayap Modena, tapi pandangan matanya tajam,
menghujam jantung Kirani yang merasakan aura kewibawaan seperti kewibawaan ayah
dan kakeknya.
“Duduklah. Bukankah ini pembawa batu
kunci gerbang dunia peri?” Tanpa dijelaskan mereka tahu siapa yang datang bersama
Modena.
“Iya, Kakek.” Dengan takzim Kirani
menjawab pertanyaan para sesepuh itu.
“Ada keperluan apa sampai harus
menemui kami, bukankah lebih menyenangkan kalau bermain dengan orang-orang di
sini?” Para sesepuh beranggapan pasti ada hal penting sampai Kirani harus
menemui mereka.
Mula-mula Kirani sedikit ragu untuk
menyampaikan maksudnya. Tapi tanpa terasa, semangatnya begitu menggebu ketika
menceritakan Kerajaan Elfunity yang ingin ia kunjungi.
Para sesepuh mendengarkan cerita
Kirani tanpa menyela sedikit pun. Dan secara bergantian mereka menanggapi
cerita Kirani.
“Sepengetahuan kami, dunia peri tak
punya struktur pemerintahan seperti peradaban yang ada dalam dunia manusia,
Anak Muda. Mungkin buku yang kaubaca, adalah sekadar rekayasa, seolah kehidupan dunia peri sama dengan
kehidupan dunia manusia.
Kirani tak sepenuhnya paham apa yang
para sesepuh ucapkan. Di dalam hatinya ia tetap percaya kalau Kerajaan Elfunity
itu ada. Ratu Meraelf, Ramelf, Arwann, Pegasus, Ahmad, semua itu ada.
“Di dunia peri seperti kami, tak ada
pengakuan kepada bangsa lain untuk menjadi pemimpin kami. Pemimpin kami adalah
bangsa kami sendiri. Masing-masing bangsa mempunyai pemimpinnya sendiri yang
mereka akui karena dianggap sanggup melindungi warga dari serangan pemangsa
bangsa lain. Tidak ada bangsa lain yang mengabdi pada kami, begitu pun kami,
tidak mengabdi kepada bangsa lain.” Para sesepuh panjang lebar menjelaskan
kepada Kirani, yang hanya duduk diam dan tetap berharap diijinkan diantar oleh
seorang warga peri merpati mencari kerajaan Ratu Meraelf.
“Ijinkan aku tetap mencarinya, Pak
Puh. Ijinkan, ya,” rengek Kirani seolah ia berhadapan dengan kakeknya.
Melihat keteguhan hati Kirani, para
sesepuh luluh hatinya dan mengutus salah satu jenis merpati balap untuk
mengantarnya.
Segera Kirani berpamitan setelah
mengucapkan terima kasih dan mencium tangan para sesepuh, yang sayap di
punggungnya sedikit bergetar karena tidak mampu meyakinkan Kirani kalau yang ia
baca itu adalah khayalan belaka.
Kirani gembira, merpati balap itu
masih muda, tampan, dan terlihat tidak sombong. Setelah mengucapkan terima
kasih dan berpamitan kepada Modena serta istrinya, Kirani berpamitan.
Racing, nama pembalap muda itu,
dengan sopan menyilakan Kirani naik ke punggungnya. Dan dengan sopan pula,
Kirani duduk dengan hati-hati. Ini pengalaman pertama Kirani terbang seperti
merpati balap yang ia punya di rumah. Hatinya berdebar kencang saat Racing
terbang pada kecepatan penuh melintasi awan hitam. Erat ia peluk bahu Racing
dan sejajar ia posisikan kepalanya dengan kepala Racing. Angin begitu kencang,
dingin menusuk tulang. Bersyukur istri
Modena memberinya baju tebal yang terbuat dari bulu-bulu berwarna coklat. Pasti
saat itu ia berpenampilan seperti jenis merpati Modena.
“Kita mencari ke mana, Rani?” Di sela
desir angin Racing menanyakan arah tujuan. Kirani sedikit terkesiap, hanya
ayah, ibu, kakak dan adiknya saja yang memanggilnya dengan sebutan Rani. Teman
sekolah dan gurunya biasa memanggilnya dengan sebutan Kiran.
“Ke arah Kenjeran Surabaya aja,
Racing. Kan, sama-sama pantai Utara. Barangkali bisa kita telusur dari penghuni
yang ada di sana.” Kirani memberi arahan.
Racing melesat ke arah Utara. Sekejap
kemudian ia menukik tajam, mendarat persis di pantai Kenjeran.
Kirani mengusap matanya yang pedih.
Udara laut dengan aroma garam seperti memercik ke bola matanya.
“Sini aku bersihkan matamu.” Racing
mengeluarkan sapu tangan dari balik sayap tegapnya, membersihkan mata Kirani
yang merah membasah.
“Terima kasih, Racing,” ujar Kirani
sambil menatap laut lepas yang bergelombang nun jauh di sana. Pantai Kenjeran
tak sedikit pun tersentuh ombak. Hanya lumpur membentang beberapa kilometer,
dengan sesekali ikan-ikan kecil berseluncur dan berlompatan, lari dari kejaran
camar yang tiba-tiba menukik mengancam nyawa mereka.
Ada seekor peri kupu-kupu melintas di
dekat kepala Kirani sedang bersenandung riang.
“Eh, maaf peri kupu-kupu, boleh aku
bertanya?” Kirani menghentikan kupu-kupu kuning itu sejenak.
“Iya, Kakak, mau tanya apa?” Peri
kupu-kupu itu ternyata ramah. Senyum manisnya tak lekang seperti sayap indahnya
yang terus mengepak.
“Adik, pernah dengar Kerajaan
Elfunity? Pernah kenal dengan peri kupu-kupu bernama Ramelf?” cecar Kirani.
“Oh, maaf, Kakak. Aku tidak pernah
mendengar nama kerajaan Elfunity, dan juga belum pernah mendengar nama Ramelf.”
Kupu-kupu itu menjawab singkat tanpa meninggalkan senyumannya.
“Apakah di sini Adik pernah melihat
bangsa Mermadian? Dulu nama pemimpinnya Racean. Tapi sekarang sudah meninggal
dan digantikan putranya, Arwann. Kalau muncul dari laut, Arwann ini sisiknya berguguran
dan akan berubah menjadi baju zirah.” Berapi-api Kirani menggambarkan yang
dicarinya.
“Tidak tahu, Kakak. Pantai ini jarang
sekali tersentuh ombak besar, kecuali saat purnama, air akan sampai di pantai.
Dan aku belum pernah sekali pun melihat bangsa Mermadian di laut ini,” ujarnya.
“Oh, begitu, ya. Terima kasih, Adik.”
Kirani tertunduk lesu. Tak ada yang tahu atau pernah mendengar nama Kerajaan
Elfunity di sini setelah Kirani menanyakan kepada peri Kepiting, ikan-ikan
kecil maupun lebah dan binatang lain, padahal ini adalah juga dunia peri yang
terhubung dengan laut yang sama dengan lokasi Kerajaan Elfunity.
Peperangan di Kerajaan Elfunity
menurut buku itu, melibatkan banyak bangsa dari ordo-ordo berbagai macam
binatang, yang mestinya binatang yang sama seperti yang ada di Kenjeran ini.
“Mau dicari ke mana lagi, Rani?”
Racing memecah hening kesedihan Kirani yang belum berhasil mendapatkan sedikit pun
titik terang tentang Kerajaan Elfunity seperti yang ia baca di buku.
“Tak tahulah. Jakarta jauh dari sini.
Kalau terlalu lama pergi, aku khawatir keluargaku akan bersedih.” Kirani
tiba-tiba sedih saat teringat kepada ibu, bapak, kakak, dan adiknya.
“Kita pulang? Naiklah ke punggungku.”
Racing membetulkan kancing baju hangat yang dipakai Kirani. Ia juga memasang
sapu tangan menutup mata Kirani agar tidak pedih kalau harus melesat di udara
bermendung tebal seperti sekarang ini. Racing melesat seperti jet tanpa
meninggalkan jejak. Rani meringkuk di punggungnya.
*
Sementara itu di Sidoarjo, mendung
tebal tak kuat lagi menggendong air di pundaknya. Tanpa pikir panjang,
diturunkannya semua beban itu, menjadi hujan deras yang disertai angin dan
petir.
Ibu tergesa-gesa menutup pintu dan
semua jendela. Baru ingat kalau sehabis makan siang tadi, Rani tak terlihat
kelebatnya. Kakak dan adiknya pulas bergelung dalam selimut. Ke mana Rani?
Bersijingkat ibu masuk ke kamar kerja
yang sekaligus dipakainya sebagai perpustakaan. Lega hatinya melihat Rani tidur
di kursi keheningan –kursi tempat ibu biasa mencari ide untuk tulisan-tulisannya-
sambil memeluk buku “Fantasytopia”.
Ada butir bening membekas di sudut
mata Rani. Ibu tidak tahu, apa yang Rani mimpikan, tidur memeluk buku dan
berurai air mata.
Sengaja ibu membiarkan Rani pulas. Kadang ibu merasa bersalah,
membiarkan anak umur sembilan tahun membaca novel fantasi berat semacam “Fantasytopia”.
Ia tentunya belum dapat membedakan, mana yang nyata, mana yang khayal.
Ibu mengelus kepala Rani, mencium
keningnya dengan lembut, dan membiarkannya tetap pulas.
*
Tamat
*Terinspirasi oleh novel “Fantasytopia”
karya Ando Ajo, Penerbit Jentera Pustaka(Mata Pena Group)
Minggu, 25 September 2016
[Fiksi Horor dan Misteri] Irun Malang
Gemericik
alir bening menerpa bebatuan. Di sela rimbun pohon raksasa, matahari seperti
menyelinap diam-diam, cahaya halusnya memberi hangat lumut-lumut hijau berhias
tempias seolah butir embun.
Air menetes
di sela jari sepasang tangan yang menangkup alir air sungai itu. Berkali-kali
membasuh dengan kesegaran yang tiada tara.
“Ah,
segarnya,” desah diiringi kibas rambut panjang yang baru saja digerai dari
kondenya. Dagu runcingnya tengadah seolah hendak menangkap sinar matahari yang
masih malu-malu.
Tanpa
tergesa, pemilik dagu runcing itu, menikmati segarnya udara pagi tepi hutan
bukit Wonosalam. Tak ada siapa pun, karena tempat itu jauh dari pemukiman
penduduk. Ia, gadis manis yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya; menuruni
bukit belasan kilometer bertahun-tahun sampai ia lulus SMA. Kini Ia memilih
tinggal di rumah, merawat kakek dan kebun sayur yang menjadi sumber
penghidupannya.
“Sudah
selesai buat buburnya, Nduk?” Suara Kakek
mengagetkan si Gadis yang asik membuat bubur lima warna.
“Sedikit
lagi, Mbah.” Ia menjawab sambil terus menekuni pekerjaannya.
Hari ini Minggu
Kliwon, hari pasaran wetonnya—hari kelahiran dalam penanggalan Jawa. Kakeknya
masih memegang tradisi leluhur, setiap weton harus membuat bubur lima warna.
Bubur nasi cukup dari segenggam beras. Dibagi menjadi lima warna; putih,
kuning, merah, hitam, dan hijau. Bagi si Gadis mudah membuatnya karena sejak
ibunya meninggal, ia terbiasa membuatnya sendiri. Memberi warna menjadi bubur
kuning, mencampur bubur beras dengan sedikit perasan kunyit, merah dengan
menambahkan gula kelapa, hitam mencampurnya dengan bubuk kopi, dan hijau
menambahkan air daun suji. Tidak perlu banyak-banyak, masing-masing warna cukup
satu sendok.
“Sudah
selesai, Mbah.” Diletakkannya piring di atas bufet.
“Diperiksa
lagi letak warnanya, Nduk.” Kakek mengingatkan sambil memeriksa nyala ‘damar
kambang’—lentera yang terbuat dari kapas sebagai sumbu, direndam dalam minyak
kelapa—sebagai pendamping bubur.
Meletakkan
warna memang tidak boleh sembarangan karena menyangkut ketenangan batin si
pemilik weton. Warna hijau harus selalu diletakkan di tengah, simbol dari
keteduhan.
Meski tak
terdengar suara azan, Kakek tahu Maghrib sudah tiba. Mereka segera berwudu dan
salat berjamaah. Bubur dalam bayang-bayang damar kambang menciptakan suasana
mistis tersendiri di ruang tengah yang hanya diterangi lampu minyak.
Ayu, pemilik
dagu runcing, begitu khusuk dalam dzikir. Meski umurnya belum lagi 25 tahun, ia
memiliki kepekaan batin. Mampu menangkap gelombang isyarat dari orang yang
membutuhan pertolongan atau jiwa yang
mengembara dari raga yang mati.
Jantungnya
berdesir. Saat ia khusuk, mata batinnya menangkap rintihan. Jantungnya makin
berdegup saat ia merasa, ada sosok duduk di hadapannya. Makin lama makin jelas,
wajah perempuan muda memakai baju seragam SMA. Pucat pasi dan tidak berkata
apa-apa, hanya sorot matanya seolah meminta tolong.
Cukup lama
Ayu meredakan getar dan meluruskan hati menekan rasa takutnya. Jika pun harus
melihat penampakan jin dan bala kurawanya, telah tertancap di hati, ia tak
boleh takut. Kata Kakek, manusia adalah makhluk yang memiliki derajat paling
tinggi di antara semua makhluk ciptaan-Nya. Tidak pada tempatnyalah kalau
justru manusia yang takut kepada makhluk-makhluk itu.
Selaras dengan usaha Ayu untuk
menguasai diri, Kakek yang sudah menyelesaikan salatnya, melihat nyala damar
kambang di ruang tengah bergerak gelisah, padahal tak ada angin masuk ke dalam
ruangan itu.
Ayu menatap
wajah pucat penuh nestapa dari sosok diam di hadapannya. Tapi tiba-tiba muncul wajah seorang pemuda, berdiri di belakang
sosok perempuan itu. Auranya terang, berusia sekitar 20 tahunan. Antara hilang
dan timbul, wajah itu menyorotkan ekspresi bingung. Kemudian menghilang begitu
saja.
Ayu fokus
kepada sosok perempuan yang duduk di hadapannya. Ayu tahu, sosok ini bukanlah
dari jenis jin yang menyerupakan diri seperti manusia, sebab dzikirnya tidak
membuat sosok itu menghilang.
“Salam
untukmu jiwa yang mengembara.” Ayu menyapa sosok itu dengan suara batinnya.
Beberapa saat hanya suara burung kedasih terdengar di kejauhan rimba. Tak ada
jawab, sampai wajah pasi itu mendongak mencari tatap mata Ayu.
“Salaaam…Kakak,”
lirih nyaris meratap.
“Tolong
akuuu….” Sosok itu merebahkan kepalanya di pangkuan Ayu. Tercekat, Ayu melihat
dengan jelas, sosok itu adalah remaja cantik meski wajahnya pasi tak berdarah
dan matanya nanar berselimut kabut nestapa. Ayu mengelus punggung tak kasat
mata itu. Dengan lembut ia berusaha meredakan guncangan sayat tangisnya.
Di ruang
tengah, damar kambang menyala tenang. Ayu sedang mendengarkan cerita batin
remaja tak kasat mata itu, yang menutup ceritanya dengan permohonan.
“Tolong cari
dia, Kakak. Aku akan pergi dengan tenang, aku tidak akan datang menemui Kakak
lagi. Cari dia, Kakak….”
Sebelum Ayu
menjawab, sosok itu menghilang dari pangkuan Ayu. Meninggalkan cerita dan wangi
jiwa murni dalam hati dan pikiran Ayu.
Ayu menarik napas panjang. Kemudian
ia menemui Kakek dan menceritakan kejadian yang baru dialaminya. Banyak hal
yang Ayu tanyakan kepada Kakek, bagaimana harus memenuhi permintaan jiwa yang
sedang mengembara itu.
“Ini hari kejayaanmu, Nduk. Berkah
Allah kalau mata batinmu semakin tajam.”
“Iya, Mbah. Doakan Ayu bisa berbuat
kebaikan dengan berkah ini.” Ayu mencium tangan kakeknya dan melanjutkan dzikir
demi mencari petunjuk-Nya agar dapat menolong jiwa remaja yang tadi hadir di
hadapannya.
**
Sementara
itu, ada yang terseok-seok menaiki bukit. Gelap sehabis Isya’ membuatnya jatuh
bangun di tanah lembek sehabis hujan. Engah napasnya lebih mengerikan daripada
suara-suara hewan malam di sekitarnya.
Entah berapa
jauh sosok itu berlari. Ia tak peduli pada suara-suara pengejarnya yang
terdengar semakin jauh. Ia hanya berharap, nyawanya bisa selamat dari amukan
warga desanya.
Sosok itu
adalah Irun. Anak kabur kanginan yang dibuang oleh orangtuanya karena dianggap
membawa sial. Ketika lahir, ayahnya bangkrut, tokonya disita oleh rentenir. Tak
bisa bangkit dari keterpurukan, hidup miskin tak berkesudahan, tak berubah
menjadi kaya meski hari-harinya dilewatkan di meja judi, membuat ayahnya gelap
mata. Kala itu, Irun yang baru berumur satu tahun ditinggalkan di sebuah pos
kamling desa tetangga. Ibunya meraung, tapi justru digebuki oleh ayahnya. Karena
warga desa itu tak bisa menemukan orang tuanya, akhirnya ia diserahkan ke
sebuah panti asuhan.
Hidup di
panti asuhan tak sepenuhnya membahagiakan. Kasih sayang yang didapat juga
seadanya karena harus berbagi dengan anak-anak lainnya. Namun demikian, Irun
tak pernah mendendam kepada orang tua yang ia tak ingat lagi bagaimana
wajahnya. Disekolahkan oleh panti, ia mensyukurinya. Meski hanya sampai SMP ia
bangga karena bisa bekerja menjadi pembantu di rumah seorang juragan sapi.
Prilakunya baik. Ia disayang oleh juragan dan seluruh anggota keluarganya.
Tapi
kemalangan seolah menjadi garis hidupnya. Kini ia harus meninggalkan rumah
juragannya, dikejar-kejar warga sampai ia harus menerobos rimbun hutan pada
malam yang gelap seperti ini.
Ayu yang
mengambil air wudu di sumur untuk salat malam, mendengar kerisik di belakang
dapur. Penerangan yang seadanya, tak menjangkau pandang di sana. Ayu hanya
menoleh sebentar, tapi nyaris pingsan ketika di belakangnya berdiri sosok yang
tak jelas wajahnya. Ketika akan berteriak, sosok itu sudah membekap mulutnya.
Ia meronta, mencakar, dan menendang apa saja yang ada di sana, berharap
kakeknya mendengar jerit ketakutannya.
“Sttt…sttt..diam…diam….”
Sosok itu berbisik di telinga Ayu.
Ayu terus
meronta, mencakar sekenanya, dan sempat menggigit bahu sosok yang membekapnya.
Kakinya menendang kuat. Bekapan terlepas dan sosok tadi terpental membentur
guci padasan tempat air wudu.
Glomprang!!
Brukk!!
Sepertinya guci pecah
diikuti suara jatuhnya sosok pembekap Ayu.
Ayu tidak
berpikir lagi, langsung masuk ke dapur yang pintunya tak tertutup. Dengan
gemetar berusaha memasukkan kayu pengunci pintu. Sejenak ia lunglai dan
terjerambab di lantai. Tapi segera dapat menguasai diri, memeriksa grendel
jendela dan pintu-pintu. Kemudian masuk kamar Kakek, tapi tak berani
membangunkan ketika mendengar dengkur halus teratur napasnya. Ayu bersimpuh di
bawah tempat tidur Kakek, berdzikir memanjatkan rasa syukur karena terlepas
dari mara bahaya. Ia berharap sosok itu pergi jauh-jauh dari rumahnya setelah
gagal membekap Ayu.
“Nduk…ada
apa, kok, duduk di sini?” Kakek terjaga dan terkejut melihat Ayu bersimpuh di
lantai dekat ia tidur. Terkantuk-kantuk, tapi tangannya terus memainkan biji
tasbih.
“Oh, Simbah…nuwun sewu, jangan ke sumur dulu, ya.”
Ayu membantu Kakek turun dari tempat tidur.
“Lah,
kenapa?”
“Ehm…Ayu
lihat dulu, sudah pergi atau belum orang itu.” Bergegas Ayu mendahului Kakek
menuju sumur.
“Hei…orang
siapa, Nduk? Ada tamukah?” Kakek memberondong Ayu dengan tanya tapi Ayu terlalu
sibuk mematikan dan menyalakan senter. Menguji senter masih baik atau tidak
nyalanya.
Dengan sorot
senter, Ayu memeriksa sumur dan tempat padasan. Langkah Ayu terhenti dan
lututnya gemetar karena ia melihat ada sosok terbaring di lantai sumur di
antara tebaran pecahana guci tanah yang cukup tebal.
“Kakek…jangan
keluar dulu.”
Ayu mencegah Kakek untuk keluar dan menggenggam kayu pengunci
pintu dapur kuat-kuat. Kakek yang masih tidak tahu apa-apa, menurut dan
mengendap di belakang Ayu. Ketika mencoba mengintip dari bahu Ayu, rambut
panjang Ayu terkibas mengenai wajahnya karena tiba-tiba Ayu memutar kepala,
menempelkan jari yamg memegang senter di bibir sebagai isyarat agar Kakek
jangan bersuara.
Satu tangan
memegang senter, lainnya Ayu pakai menyodok kepala sosok yang terkapar itu.
Tidak ada reaksi. Entah mati atau sekadar pingsan. Setelah memastikan sosok itu
tidak bereaksi, Ayu mendekat dan memeriksa, adakah sosok itu membawa senjata.
Ternyata tak ada senjata sama sekali.
Mungkin
sosok itu kelelahan, langsung tidur setelah pingsan tertimpa guci padasan. Ayu
akan memegang kepala sosok itu, tapi langsung menjauh karena mata sosok itu
tiba-tiba terbuka. Belum sadar sepenuhnya, menggeliat, dan berusaha menutup
mata dengan lengannya ketika sorot senter Ayu mengarah kepadanya.
Belum sadar
sepenuhnya, Kakek yang masih kekar, meringkus dan mengikat sosok itu dengan
tambang yang masih terikat pada ember yang biasa dipakai untuk menimba.
Sosok yang
ternyata anak muda berumur dua puluhan, diam saja dalam ringkusan Kakek.
Wajahnya penuh bekas cakaran, barangkali kuku Ayu mengukir wajah tampan pemuda
itu ketika bergumul semalam.
Saat tanah
terang seiring riuhnya kokok ayam jantan, pemuda yang diikat pada batang pohon
sirsak oleh Kakek, terlihat jelas begitu kumuh. Tanpa alas kaki, celana butut yang
tak jelas lagi warnanya robek di sana sini, kaus kuning bergambar sapi dengan
tulisan Juragan Ramli, semuanya berlepot lumpur. Menyempurnakan kemalangan pada
wajah tampannya.
Ketika Ayu
mendekat dan mengamati pemuda itu, Ayu terperanjat.
“Heh,
bukankah itu wajah yang kemarin ada di belakang jiwa pengembara?” gumamnya
sambil terus berpikir apakah ada hubungannya satu sama lain.
Karena tidak
memperlihatkan sikap membahayakan, Kakek membawa pemuda itu ke ruang depan.
Masih dalam keadaan terikat, karena Kakek berjaga-jaga saja. Ayu memberinya teh
hangat dan sarapan seadanya.
“Namaku…maafkan
tindakanku semalam, Mbak,” ujarnya setelah tubuhnya terasa segar. Kakek menatap
Ayu penuh tanya tentang kejadian semalam. Tapi Ayu hanya mengedip dan
menggeleng, seolah mengatakan tak ada apapun yang terjadi.
Ayu kembali
mengingat wajah pemuda itu ketika terlihat oleh mata batinnya. Mengapa auranya
terang? Karena ternyata wajah ini masih hidup. Ayu hanya bisa melihat, tapi tak
bisa berkomunikasi lewat batin dengannya. Lain halnya jika orang itu juga
memiliki kepekaan mata batin, bisa berkomunikasi meski raga berjauhan. Ah,
sudahlah, yang penting sekarang Ayu akan bisa mengorek semua hal yang masih
misteri ini.
“Tidak
apa-apa, kan, kalau Kakek antar nak Irun ke Polsek terdekat?” Kakek meminta
pendapat Irun setelah mendengar pengakuan menyedihkan sampai ia diburu warga
desa.
“Tidak
apa_apa, Kakek…tapi aku tidak mau mati…aku tidak melakukannya.” Air mata
kembali membasahi wajah tampan yang masih berlepot lumpur dan bekas cakaran.
“Aku minta
maaf, Mbak…semalam aku hanya ingin Mbak diam. Aku hanya ingin istirahat dan
makan karena seharian lari dari kejaran warga.” Lirih katanya dan tak berani
menatap Ayu. Ayu tak sepenuhnya memercayai apa yang diceritakan Irun, dikejar
warga karena disangka melakukan perkosaan terhadap anak gadis Juragan Ramli,
juragan tempat ia bekerja.
Di Polsek
Wonosalam, Irun diserahkan kepada petugas yang langsung menjembloskannya ke dalam sel tahanan.
Di sel
sempit itu Irun tetap berurai air mata. Ia merasa Tuhan tidak pernah berlaku
adil kepadanya. Dibuang orang tua, hidup di panti asuhan, disangka memerkosa
anak juragan yang sesungguhnya sangat ia lindungi. Sejak bekerja di rumah
Juragan Ramli, ia sangat menyayangi Anna. Anak SMA yang cantik dan santun meski
ayahnya terlihat seperti Abang Jampang. Galak dan menakutkan.
Hingga suatu
hari, Anna ditemukan warga di kebun jagung belakang pasar sapi saat ia baru
pulang karya wisata. Tubuh telanjangnya ditutup dengan seragam SMA-nya. Bercak
darah di mana-mana. Bahkan di kuku jarinya ada secuil kulit, yang mungkin hasil
cakaran saat ia meronta.
Saat
ditemukan warga, Anna masih hidup dan sempat menyebut satu nama, “Irun…Irun...,”
kemudian terkulai dan tewas.
Sejak itu
warga memburu Irun dan menemukan Irun yang berkeliaran di kaki bukit Wonosalam.
Ketika hasil otopsi
Anna keluar, ada kesamaan golongan darah Irun dengan darah yang ada di kuku Anna.
Irun makin
histeris. Irun mengamuk dan membetur-benturkan kepalanya di dinding sel
tahanan.
“Tidak
adil! Tidak adil! Aku tidak melakukannya…,” teriaknya.
Teriakannya
tidak digubris Polisi jaga, tetapi sebentar kemudian malah digotong ke
Puskesmas karena percobaan bunuh dirinya yang gagal itu.
Di bukit
Wonosalam Ayu bernapas lega. Sosok perempuan muda yang ada di pangkuannya
kemarin adalah Anna. Ayu mendoakan ketenangan jiwa Anna, agar tidak mengembara
lagi karena pemerkosa dan pembunuhnya telah ditemukan.
**
Sementara
itu di desa sebelah, seorang pemuda lebih muda tetapi berperawakan dan berwajah
persis Irun, bermabuk-mabukan dan berjudi bersama lelaki tua yang juga mirip
Irun. Dalam mabuknya, sesekali ia menggaruk luka bekas cakaran yang mulai
bernanah.
**
Catatan:
Nuwun sewu: permisi, maaf
*Tulisan ini diikutsertakan dalam Event Fiksi Horor dan
Misteri Grup Fiksiana Community
#FiksiHorordanMisteri
Langganan:
Postingan (Atom)

