Minggu, 25 September 2016

[Fiksi Horor dan Misteri] Irun Malang








            Gemericik alir bening menerpa bebatuan. Di sela rimbun pohon raksasa, matahari seperti menyelinap diam-diam, cahaya halusnya memberi hangat lumut-lumut hijau berhias tempias seolah butir embun.

            Air menetes di sela jari sepasang tangan yang menangkup alir air sungai itu. Berkali-kali membasuh dengan kesegaran yang tiada tara.

            “Ah, segarnya,” desah diiringi kibas rambut panjang yang baru saja digerai dari kondenya. Dagu runcingnya tengadah seolah hendak menangkap sinar matahari yang masih malu-malu.

            Tanpa tergesa, pemilik dagu runcing itu, menikmati segarnya udara pagi tepi hutan bukit Wonosalam. Tak ada siapa pun, karena tempat itu jauh dari pemukiman penduduk. Ia, gadis manis yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya; menuruni bukit belasan kilometer bertahun-tahun sampai ia lulus SMA. Kini Ia memilih tinggal di rumah, merawat kakek dan  kebun sayur yang menjadi sumber penghidupannya.

            “Sudah selesai buat buburnya, Nduk? Suara Kakek mengagetkan si Gadis yang asik membuat bubur lima warna.

            “Sedikit lagi, Mbah.” Ia menjawab sambil terus menekuni pekerjaannya.

         Hari ini Minggu Kliwon, hari pasaran wetonnya—hari kelahiran dalam penanggalan Jawa. Kakeknya masih memegang tradisi leluhur, setiap weton harus membuat bubur lima warna. Bubur nasi cukup dari segenggam beras. Dibagi menjadi lima warna; putih, kuning, merah, hitam, dan hijau. Bagi si Gadis mudah membuatnya karena sejak ibunya meninggal, ia terbiasa membuatnya sendiri. Memberi warna menjadi bubur kuning, mencampur bubur beras dengan sedikit perasan kunyit, merah dengan menambahkan gula kelapa, hitam mencampurnya dengan bubuk kopi, dan hijau menambahkan air daun suji. Tidak perlu banyak-banyak, masing-masing warna cukup satu sendok.

            “Sudah selesai, Mbah.” Diletakkannya piring di atas bufet.

            “Diperiksa lagi letak warnanya, Nduk.” Kakek mengingatkan sambil memeriksa nyala ‘damar kambang’—lentera yang terbuat dari kapas sebagai sumbu, direndam dalam minyak kelapa—sebagai pendamping bubur.

            Meletakkan warna memang tidak boleh sembarangan karena menyangkut ketenangan batin si pemilik weton. Warna hijau harus selalu diletakkan di tengah, simbol dari keteduhan.

            Meski tak terdengar suara azan, Kakek tahu Maghrib sudah tiba. Mereka segera berwudu dan salat berjamaah. Bubur dalam bayang-bayang damar kambang menciptakan suasana mistis tersendiri di ruang tengah yang hanya diterangi lampu minyak.

            Ayu, pemilik dagu runcing, begitu khusuk dalam dzikir. Meski umurnya belum lagi 25 tahun, ia memiliki kepekaan batin. Mampu menangkap gelombang isyarat dari orang yang membutuhan pertolongan  atau jiwa yang mengembara dari raga yang mati.

            Jantungnya berdesir. Saat ia khusuk, mata batinnya menangkap rintihan. Jantungnya makin berdegup saat ia merasa, ada sosok duduk di hadapannya. Makin lama makin jelas, wajah perempuan muda memakai baju seragam SMA. Pucat pasi dan tidak berkata apa-apa, hanya sorot matanya seolah meminta tolong.

            Cukup lama Ayu meredakan getar dan meluruskan hati menekan rasa takutnya. Jika pun harus melihat penampakan jin dan bala kurawanya, telah tertancap di hati, ia tak boleh takut. Kata Kakek, manusia adalah makhluk yang memiliki derajat paling tinggi di antara semua makhluk ciptaan-Nya. Tidak pada tempatnyalah kalau justru manusia yang takut kepada makhluk-makhluk itu.

Selaras dengan usaha Ayu untuk menguasai diri, Kakek yang sudah menyelesaikan salatnya, melihat nyala damar kambang di ruang tengah bergerak gelisah, padahal tak ada angin masuk ke dalam ruangan itu.

            Ayu menatap wajah pucat penuh nestapa dari sosok  diam di hadapannya. Tapi tiba-tiba muncul  wajah seorang pemuda, berdiri di belakang sosok perempuan itu. Auranya terang, berusia sekitar 20 tahunan. Antara hilang dan timbul, wajah itu menyorotkan ekspresi bingung. Kemudian menghilang begitu saja.

            Ayu fokus kepada sosok perempuan yang duduk di hadapannya. Ayu tahu, sosok ini bukanlah dari jenis jin yang menyerupakan diri seperti manusia, sebab dzikirnya tidak membuat sosok itu menghilang.

            “Salam untukmu jiwa yang mengembara.” Ayu menyapa sosok itu dengan suara batinnya. Beberapa saat hanya suara burung kedasih terdengar di kejauhan rimba. Tak ada jawab, sampai wajah pasi itu mendongak mencari tatap mata Ayu.

            “Salaaam…Kakak,” lirih nyaris meratap.

            “Tolong akuuu….” Sosok itu merebahkan kepalanya di pangkuan Ayu. Tercekat, Ayu melihat dengan jelas, sosok itu adalah remaja cantik meski wajahnya pasi tak berdarah dan matanya nanar berselimut kabut nestapa. Ayu mengelus punggung tak kasat mata itu. Dengan lembut ia berusaha meredakan guncangan sayat tangisnya.

            Di ruang tengah, damar kambang menyala tenang. Ayu sedang mendengarkan cerita batin remaja tak kasat mata itu, yang menutup ceritanya dengan permohonan.

            “Tolong cari dia, Kakak. Aku akan pergi dengan tenang, aku tidak akan datang menemui Kakak lagi. Cari dia, Kakak….”

            Sebelum Ayu menjawab, sosok itu menghilang dari pangkuan Ayu. Meninggalkan cerita dan wangi jiwa murni dalam hati dan pikiran Ayu.

Ayu menarik napas panjang. Kemudian ia menemui Kakek dan menceritakan kejadian yang baru dialaminya. Banyak hal yang Ayu tanyakan kepada Kakek, bagaimana harus memenuhi permintaan jiwa yang sedang mengembara itu.

“Ini hari kejayaanmu, Nduk. Berkah Allah kalau mata batinmu semakin tajam.”

“Iya, Mbah. Doakan Ayu bisa berbuat kebaikan dengan berkah ini.” Ayu mencium tangan kakeknya dan melanjutkan dzikir demi mencari petunjuk-Nya agar dapat menolong jiwa remaja yang tadi hadir di hadapannya.

**

            Sementara itu, ada yang terseok-seok menaiki bukit. Gelap sehabis Isya’ membuatnya jatuh bangun di tanah lembek sehabis hujan. Engah napasnya lebih mengerikan daripada suara-suara hewan malam di sekitarnya.

            Entah berapa jauh sosok itu berlari. Ia tak peduli pada suara-suara pengejarnya yang terdengar semakin jauh. Ia hanya berharap, nyawanya bisa selamat dari amukan warga desanya.

            Sosok itu adalah Irun. Anak kabur kanginan yang dibuang oleh orangtuanya karena dianggap membawa sial. Ketika lahir, ayahnya bangkrut, tokonya disita oleh rentenir. Tak bisa bangkit dari keterpurukan, hidup miskin tak berkesudahan, tak berubah menjadi kaya meski hari-harinya dilewatkan di meja judi, membuat ayahnya gelap mata. Kala itu, Irun yang baru berumur satu tahun ditinggalkan di sebuah pos kamling desa tetangga. Ibunya meraung, tapi justru digebuki oleh ayahnya. Karena warga desa itu tak bisa menemukan orang tuanya, akhirnya ia diserahkan ke sebuah panti asuhan.

            Hidup di panti asuhan tak sepenuhnya membahagiakan. Kasih sayang yang didapat juga seadanya karena harus berbagi dengan anak-anak lainnya. Namun demikian, Irun tak pernah mendendam kepada orang tua yang ia tak ingat lagi bagaimana wajahnya. Disekolahkan oleh panti, ia mensyukurinya. Meski hanya sampai SMP ia bangga karena bisa bekerja menjadi pembantu di rumah seorang juragan sapi. Prilakunya baik. Ia disayang oleh juragan dan seluruh anggota keluarganya.

            Tapi kemalangan seolah menjadi garis hidupnya. Kini ia harus meninggalkan rumah juragannya, dikejar-kejar warga sampai ia harus menerobos rimbun hutan pada malam yang gelap seperti ini.

            Ayu yang mengambil air wudu di sumur untuk salat malam, mendengar kerisik di belakang dapur. Penerangan yang seadanya, tak menjangkau pandang di sana. Ayu hanya menoleh sebentar, tapi nyaris pingsan ketika di belakangnya berdiri sosok yang tak jelas wajahnya. Ketika akan berteriak, sosok itu sudah membekap mulutnya. Ia meronta, mencakar, dan menendang apa saja yang ada di sana, berharap kakeknya mendengar jerit ketakutannya.

            “Sttt…sttt..diam…diam….” Sosok itu berbisik di telinga Ayu.

        Ayu terus meronta, mencakar sekenanya, dan sempat menggigit bahu sosok yang membekapnya. Kakinya menendang kuat. Bekapan terlepas dan sosok tadi terpental membentur guci padasan tempat air wudu.

            Glomprang!! Brukk!!

            Sepertinya guci pecah diikuti suara jatuhnya sosok pembekap Ayu.

            Ayu tidak berpikir lagi, langsung masuk ke dapur yang pintunya tak tertutup. Dengan gemetar berusaha memasukkan kayu pengunci pintu. Sejenak ia lunglai dan terjerambab di lantai. Tapi segera dapat menguasai diri, memeriksa grendel jendela dan pintu-pintu. Kemudian masuk kamar Kakek, tapi tak berani membangunkan ketika mendengar dengkur halus teratur napasnya. Ayu bersimpuh di bawah tempat tidur Kakek, berdzikir memanjatkan rasa syukur karena terlepas dari mara bahaya. Ia berharap sosok itu pergi jauh-jauh dari rumahnya setelah gagal membekap Ayu.

            “Nduk…ada apa, kok, duduk di sini?” Kakek terjaga dan terkejut melihat Ayu bersimpuh di lantai dekat ia tidur. Terkantuk-kantuk, tapi tangannya terus memainkan biji tasbih.

            “Oh, Simbah…nuwun sewu, jangan ke sumur dulu, ya.” Ayu membantu Kakek turun dari tempat tidur.

            “Lah, kenapa?”

          “Ehm…Ayu lihat dulu, sudah pergi atau belum orang itu.” Bergegas Ayu mendahului Kakek menuju sumur.

            “Hei…orang siapa, Nduk? Ada tamukah?” Kakek memberondong Ayu dengan tanya tapi Ayu terlalu sibuk mematikan dan menyalakan senter. Menguji senter masih baik atau tidak nyalanya.

            Dengan sorot senter, Ayu memeriksa sumur dan tempat padasan. Langkah Ayu terhenti dan lututnya gemetar karena ia melihat ada sosok terbaring di lantai sumur di antara tebaran pecahana guci tanah yang cukup tebal.

            “Kakek…jangan keluar dulu.”

          Ayu mencegah Kakek untuk keluar dan menggenggam kayu pengunci pintu dapur kuat-kuat. Kakek yang masih tidak tahu apa-apa, menurut dan mengendap di belakang Ayu. Ketika mencoba mengintip dari bahu Ayu, rambut panjang Ayu terkibas mengenai wajahnya karena tiba-tiba Ayu memutar kepala, menempelkan jari yamg memegang senter di bibir sebagai isyarat agar Kakek jangan bersuara.

            Satu tangan memegang senter, lainnya Ayu pakai menyodok kepala sosok yang terkapar itu. Tidak ada reaksi. Entah mati atau sekadar pingsan. Setelah memastikan sosok itu tidak bereaksi, Ayu mendekat dan memeriksa, adakah sosok itu membawa senjata. Ternyata tak ada senjata sama sekali.

            Mungkin sosok itu kelelahan, langsung tidur setelah pingsan tertimpa guci padasan. Ayu akan memegang kepala sosok itu, tapi langsung menjauh karena mata sosok itu tiba-tiba terbuka. Belum sadar sepenuhnya, menggeliat, dan berusaha menutup mata dengan lengannya ketika sorot senter Ayu mengarah kepadanya.

            Belum sadar sepenuhnya, Kakek yang masih kekar, meringkus dan mengikat sosok itu dengan tambang yang masih terikat pada ember yang biasa dipakai untuk menimba.

            Sosok yang ternyata anak muda berumur dua puluhan, diam saja dalam ringkusan Kakek. Wajahnya penuh bekas cakaran, barangkali kuku Ayu mengukir wajah tampan pemuda itu ketika bergumul semalam.

            Saat tanah terang seiring riuhnya kokok ayam jantan, pemuda yang diikat pada batang pohon sirsak oleh Kakek, terlihat jelas begitu kumuh. Tanpa alas kaki, celana butut yang tak jelas lagi warnanya robek di sana sini, kaus kuning bergambar sapi dengan tulisan Juragan Ramli, semuanya berlepot lumpur. Menyempurnakan kemalangan pada wajah tampannya.

            Ketika Ayu mendekat dan mengamati pemuda itu, Ayu terperanjat.

           “Heh, bukankah itu wajah yang kemarin ada di belakang jiwa pengembara?” gumamnya sambil terus berpikir apakah ada hubungannya satu sama lain.

            Karena tidak memperlihatkan sikap membahayakan, Kakek membawa pemuda itu ke ruang depan. Masih dalam keadaan terikat, karena Kakek berjaga-jaga saja. Ayu memberinya teh hangat dan sarapan seadanya.

            “Namaku…maafkan tindakanku semalam, Mbak,” ujarnya setelah tubuhnya terasa segar. Kakek menatap Ayu penuh tanya tentang kejadian semalam. Tapi Ayu hanya mengedip dan menggeleng, seolah mengatakan tak ada apapun yang terjadi.

            Ayu kembali mengingat wajah pemuda itu ketika terlihat oleh mata batinnya. Mengapa auranya terang? Karena ternyata wajah ini masih hidup. Ayu hanya bisa melihat, tapi tak bisa berkomunikasi lewat batin dengannya. Lain halnya jika orang itu juga memiliki kepekaan mata batin, bisa berkomunikasi meski raga berjauhan. Ah, sudahlah, yang penting sekarang Ayu akan bisa mengorek semua hal yang masih misteri ini.

            “Tidak apa-apa, kan, kalau Kakek antar nak Irun ke Polsek terdekat?” Kakek meminta pendapat Irun setelah mendengar pengakuan menyedihkan sampai ia diburu warga desa.

            “Tidak apa_apa, Kakek…tapi aku tidak mau mati…aku tidak melakukannya.” Air mata kembali membasahi wajah tampan yang masih berlepot lumpur dan bekas cakaran.

            “Aku minta maaf, Mbak…semalam aku hanya ingin Mbak diam. Aku hanya ingin istirahat dan makan karena seharian lari dari kejaran warga.” Lirih katanya dan tak berani menatap Ayu. Ayu tak sepenuhnya memercayai apa yang diceritakan Irun, dikejar warga karena disangka melakukan perkosaan terhadap anak gadis Juragan Ramli, juragan tempat ia bekerja.

              Di Polsek Wonosalam, Irun diserahkan kepada petugas yang langsung menjembloskannya ke dalam sel tahanan.

        Di sel sempit itu Irun tetap berurai air mata. Ia merasa Tuhan tidak pernah berlaku adil kepadanya. Dibuang orang tua, hidup di panti asuhan, disangka memerkosa anak juragan yang sesungguhnya sangat ia lindungi. Sejak bekerja di rumah Juragan Ramli, ia sangat menyayangi Anna. Anak SMA yang cantik dan santun meski ayahnya terlihat seperti Abang Jampang. Galak dan menakutkan. 

          Hingga suatu hari, Anna ditemukan warga di kebun jagung belakang pasar sapi saat ia baru pulang karya wisata. Tubuh telanjangnya ditutup dengan seragam SMA-nya. Bercak darah di mana-mana. Bahkan di kuku jarinya ada secuil kulit, yang mungkin hasil cakaran saat ia meronta.

            Saat ditemukan warga, Anna masih hidup dan sempat menyebut satu nama, “Irun…Irun...,” kemudian terkulai dan tewas.

         Sejak itu warga memburu Irun dan menemukan Irun yang berkeliaran di kaki bukit Wonosalam.

           Ketika hasil otopsi Anna keluar, ada kesamaan golongan darah Irun dengan darah yang ada di kuku Anna.

          Irun makin histeris. Irun mengamuk dan membetur-benturkan kepalanya di dinding sel tahanan.

            “Tidak adil! Tidak adil! Aku tidak melakukannya…,” teriaknya.

           Teriakannya tidak digubris Polisi jaga, tetapi sebentar kemudian malah digotong ke Puskesmas karena percobaan bunuh dirinya yang gagal itu.

            Di bukit Wonosalam Ayu bernapas lega. Sosok perempuan muda yang ada di pangkuannya kemarin adalah Anna. Ayu mendoakan ketenangan jiwa Anna, agar tidak mengembara lagi karena pemerkosa dan pembunuhnya telah ditemukan.

            **

            Sementara itu di desa sebelah, seorang pemuda lebih muda tetapi berperawakan dan berwajah persis Irun, bermabuk-mabukan dan berjudi bersama lelaki tua yang juga mirip Irun. Dalam mabuknya, sesekali ia menggaruk luka bekas cakaran yang mulai bernanah.

            **

Catatan:
Nuwun sewu: permisi, maaf
           
*Tulisan ini diikutsertakan dalam Event Fiksi Horor dan Misteri Grup Fiksiana Community

#FiksiHorordanMisteri           
           

Jumat, 09 September 2016

Ada Apa Dengan Anglocita




 Membayangkannya seperti nama seorang gadis cantik berkulit putih, wajah kebule-bulean, tubuh tinggi semampai dengan rambut hitam tergerai di punggung berpinggang ramping.

Jika itu seorang gadis maka nama Anglocita sangatlah pas. Tapi yang nyata adalah sebuah buku kumpulan puisi berjudul Anglocita.

Barangkali terasa asing. Tapi jika dicari maknanya, anglocita bisa diartikan sebagai curahan hati. Dan dalam hal ini, kumpulan puisi yang ditulis oleh Alpaprana memang dimaksudkan sebagai karya yang lahir sebagai curahan hatinya.

Kegelisahan jiwa dalam pengembaraan daya ciptanya, dilukiskan melalui rangkaian kata dengan pendekatan kepada semesta. 

Puisi-puisi lahir dari rahsa Alpaprana dalam bahasa yang barangkali terasa asing untuk pembacanya. 
Yah, ia ingin menjadikan dirinya sebagai penulis yang mempunyai karakter unik, dalam hal ini ia mengajak pembaca untuk rajin membuka kamus Sanskerta.

Bikin pusing?
Tentu tidak. Bukankah Mbah Google selalu siap menolong siapa pun yang sedang dalam kesulitan?

Untuk memudahkan penyampaian maksud anglocitanya, Alpaprana mengelompokkan puisi-puisinya menjadi enam bab. Sebagai contoh, untuk menyampaikan rahsanya tentang sunyi, ia memberi judul babnya dengan Memiliki Kesunyian.

Dalam puisinya ia bertanya, "Untuk apa sunyi?"
Perenungannya kemudian berdenyut seperti detak nadi. Tidak berhenti namun terus bergerak dalam kelembutan.
Hingga tiba pada suatu perhentian, ia berkata, "Pada batas kekosongan nalar, waktu pun lenyap, makna menjawab. Isi jiwa memiliki kesunyian."
Ketika sampai pada relung atma terdalam, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa 'dalam wujudku, rahsa memiliki kesunyian'

Wow...curahan hati yang cantik.

Alpaprana yang belum genap 30 tahun semakin liar dalam pengembaraan jiwa. Ia menelusuri pergerakan semesta, menghanyutkan diri dalam jiwa semua ciptaan-Nya. Bulan, angin bahkan daun mahoni pun dapat ia maknai perlambangnya.

Pada bab lain yang diberinya judul Syair Berdarah, secara spesifik ia tak memberi judul pada lima puisi yang tergabung di sana. Ia hanya menandai judulnya dengan #1 sampai dengan #5. Entah mengapa dibuat seperti itu. 
Dan mengapa ia menamai puisi-puisi itu dengan Syair Berdarah? Adakah ia menuliskan rahsa tentang peistiwa-peristiwa berdarah?
Gelebah. Kesedihan hati. Mungkinkah itu yang membuatnya menulis Syair Berdarah?

Masih banyak puisi lain yang menarik. Tapi jangan berharap dapat mengerti jalan cerita pada setiap puisinya. Sebab semua juga tahu, puisi itu mutlak hanya penulisnya yang tahu maksudnya secara detail. Pembaca hanya bisa menikmatinya, syukur-syukur bisa memahaminya, meski cuma sedikit. 

Anglocita, tampil begitu menawan, seperti noni-noni di atas. Diterbitkan oleh Penerbit Jentera Pustaka (Mata Pena Group), disunting oleh Nur Ridwan, hadir dalam ketebalan 140 halaman, terbit pada tahun 2016.

Satu hal penting yang membuat buku ini nyaman dibaca adalah kreatifitas layouter Kharisma Amalia menampilkan dua kolom dalam tiap halamannya. Karakter dan ukuran huruf pun pas, ruangan yang tidak berjubel dengan kata seolah memberi ruang untuk lebih bisa menikmati puisi yang terpampang di sana.

Melenakan, sampai tak terasa, 99 puisi dilahap dengan nikmat. 

Mau tahu keseluruhan isi Anglocita?
Miliki bukunya.
Kita bisa berbincang dan menggosipkannya nanti.

Tabik literasi!


Sidoarjo, menjelang Maghrib.



Rabu, 24 Agustus 2016

Menyingkap Tirai "Duka Darah Biru"






            Sebuah novel tak kunyana hadir begitu saja. Dari seseorang yang tak kukenal baik di dunia nyata maupun dunia maya. Lama aku menimangnya sambil terus berpikir, ‘jatuh dari langit mana, buku ini?’

            Buku ini ternyata dikirim oleh Erna Riyana Dewi yang baru saja berteman denganku di Face Book. Merealisasikan komitmen bagi buku dapat buku dengan teman-temannya dan temanku juga.

             Judul buku: Duka Darah Biru
             Pengarang: Dewi Sumardi
             Editor: Sekar Mayang
             Penerbit: Penerbit Jentera Pustaka (Mata Pena Group)
             Tahun terbit:2016

Sesuai dengan judulnya, novel ini berkisah tentang perjuangan hidup seorang gadis ningrat yang 'mbalelo', lari dari rumah hanya berbekal sepotong asmara.

          Terlahir dari keluarga ningrat Solo, memilih jalan hidup keluar dari keningratannya yang telah dijalaninya selama 24 tahun demi keagungan cintanya kepada lelaki dari kalangan rakyat biasa. Sri Khadijah, putri Raden Mas Haryo Kusumo, lari dari rumah dan dianggap sebagai ‘endog ilang’, telur yang hilang oleh ayahandanya yang marah hebat, sebab menolak dijodohkan dengan Raden Bagus Purnomo Sidi. Ia meninggalkan Solo dua minggu sebelum pernikahannya digelar.

Meski darah biru diambil sebagai judul, novel ini justru sama sekali tidak berkisah tentang kehidupan darah biru secara mendalam. Hanya menjadi latar utama untuk duka-duka yang terajut dalam pergolakan hidup Sri Khadijah di luar dunia keningratannya.

 Pernikahan Sri Khadijah dengan Samejo yang miskin harta, dirasakan sebagai hal yang sangat berarti untuk sisi religiusnya. Samejo mengajarkan, meski miskin, Sri dan anak-anaknya diajarkan untuk tidak meninggalkan kewajibannya sebagai umat Islam, yang tidak pernah didapatkan dari Ramanya ketika masih berada di Solo.

Memaknai tindakan ayahanda Sri, pasti Dewi sang penulis, tidaklah bermaksud memojokkan ningrat Solo dalam masalah ketaatan beragama, tetapi lebih mengetengahkan keteguhan tradisi Jawa yang kebanyakan masih memegang teguh kepercayaan terhadap Kejawen.

            Cerita selanjutnya mengalir seperti anak sungai di tengah hutan rindang.

            Pergulatan hidup Sri Khadijah yang sesungguhnya dimulai justru setelah ditinggal mati Samejo. Anak keluarga ningrat yang tak dijelaskan latar belakang pendidikannya itu, bertahan hidup dengan berjualan getuk lindri di sebuah pasar Kota Semarang, demi membesarkan ketiga anaknya, Oyong, Surami dan Supri.

            Dewi Sumardi, sungguh terarah dalam menulis novel ini. Masing-masing tokoh dan konfliknya diramu bagian demi bagian begitu apik, mengikuti karakter masing-masing.

            Oyong, anak sulung yang terlahir tak sempurna, cebol-pengkor-telat mental, pada usia 24 tahun terbujur kaku tak bernyawa karena membela Buliknya dari kawanan perampok.

            Konflik yang dibangun menyentuh hati, terutama kegigihan Oyong yang punya keterbatasan fisik tetapi tulus terhadap siapa pun. Meski itu buliknya sendiri yang tak pernah ikhlas jika suaminya (ipar Sri) memberi Oyong uang sekadarnya.

            Dewi sang Penulis menunjukkan kepeduliannya kepada sosok yang terlahir cacat. Seorang dengan keterbatasan fisik, menurutnya, juga punya impian. Begitu pesan yang dapat kutangkap saat  membaca bagian ini.

 Impian Oyong sederhana, ingin makan gulai kepala ikan sebagaimana diceritakan temannya. Sampai akhir hayatnya, dapatkah ia mewujudkan impiannya itu?

            Kesedihan sepeninggal Oyong melahirkan kesedihan baru untuk anak Sri yang lain, Surami, anak gadis satu-satunya.

            Cerita tentang Surami ini nyaris mendominasi seluruh isi buku. Seperti gado-gado, rasa yang hadir juga ikut turun naik saat membacanya.

            Jatuh bangun mengais rejeki dengan pendidikan SMP tak menghalangi Surami menjatuhkan cintanya pada seorang pemuda. Berakhir seperti gantungan baju ditiup angin, pemuda yang sudah jadi suaminya itu ditelikung ibunya sendiri, dijauhkan dari Surami yang sedang mengandung.

            Hidup harus terus berlanjut. Penulis mendaki bukit dan melintas jalan penuh kelok untuk menggambarkan perjalanan hidup Surami. Mengapa terperangkap pada lesbianisme? Bagaimanakah dapat terajut persahabatan yang tulus? Akankah bertemu kembali dengan suami yang lama tak tahu rimbanya? Dan akankah darah biru Sri Khadijah berakhir hanya sebagai penjual getuk lindri di tengah pasar? Tersambung kembalikah Sri dengan keluarga ningratnya? Semua ditulis begitu natural hingga aku membaca seolah akulah yang mengalaminya.

            Perdukunan juga diangkat dalam novel ini. Menjadi contoh, betapa perbuatan melintas kehendak Tuhan tidak akan pernah berakhir dengan kebahagiaan. Perbuatan jahat akan selalu mendapat balasan setimpal.

            Rangkaian kata dalam novel ini sempurna. Tidak ada satu kalimat pun yang bertele-tele. Dibungkus begitu rapi per bagiannya. Salut aku kepada Sekar Mayang sebagai editor. Bebarapa kali membaca buku dengan editor Sekar Mayang, tulisan jadi enak dibaca, mudah dicerna.

            Tidak rugi membaca novel yang kelihatannya sederhana ini, tetapi sarat dengan pemikiran tentang rasa syukur.

            Dan satu hal yang membuatku terkesima, Dewi Sumardi itu ternyata adalah nama pena dari sang pengirim buku, teman Face Book-ku, Erna Riyana Dewi. Holaaa….

*Sidoarjo, 23 Agustus 2016




Selasa, 02 Agustus 2016

Pedang Mulia Pengendali Fantasytopia (Sebuah Komentar)






Sebuah paket terbungkus kertas motif batik kuterima siang itu. Pengirimnya Ando Ajo, Kompasianer, penulis novel, cakep, pelukis, juga pedagang handal. Multi talenta pokoknya. Yang terbungkus itu jelaslah sebuah novel yang dikirim sebagai cindera mata karena aku ikutan komen berhadiah di akun facebooknya.

Fantasytopia judul novelnya.
Setebal 365 halaman, disunting Sekar Mayang, diterbitkan tahun 2014 oleh Jentera Pustaka (Mata Pena Group).

Aku senang karena tampilan buku dengan kaver bergambar tangan meraih sebuah cincin emas dilatarbelakangi warna mistis itu, layoutnya sederhana, nyaman dilihat, dan tentu saja jauh dari sensasi iklan oleh penerbit. Huruf yang dipakai pun pas di mata. Kertasnya juga bagus, tidak mudah lusuh meski bolak balik di bolak balik.

Novel ini unik. Bercerita tentang dua dunia, yang terhubung melalui hilangnya Ahmad, anak lelaki keluarga pemulung, umur 10 tahun.

Kemiskinan, ketidakmampuan membeli buku pelajaran, menjadi awal perjalanan gaibnya. Buku yang ia dapat secara aneh ternyata berisi sebuah cincin emas yang dalam pandangan para preman yang memalaknya hanyalah sebuah karet gelang. Mereka memaksanya menelan karet itu karena ia tidak dapat memberikan apa yang mereka minta.

Kisah mulai seru dengan keanehan lain, terdamparnya Ahmad di tepi Pantai Utara Jakarta. Di sana ia merasakan karet gelang yang ditelannya berubah kembali menjadi cincin yang bergerak liar dan menembus jantungnya.

Saat ia hendak meredakan rasa sakit dan terbakar di dadanya dengan merangkak ke bibir pantai, raksasa bertubuh menyerupai api mengangkat tubuhnya dan meminta agar ia menyerahkan cincin itu dengan paksa. Bahkan mengempaskan tubuhnya ke tumpukan karang. Tapi ada makhluk lain yang menyelamatkannya. Seperti bermimpi, yang dilihatnya adalah seekor kuda bersayap putih.

Ando Ajo dalam novel ini, benar-benar menunjukkan kecerdasannya dengan menggunakan tokoh fantasinya dari transformasi fauna. Pengetahuannya begitu mendalam tentang spesies, ordo, famili dari dunia fauna itu.  Ia jelaskan secara detail bahkan nama dalam bahasa latinnya.

Ahmad hanyalah tokoh yang mengantarkan Ando Ajo meliarkan fantasinya di negeri peri, Kerajaan Elfunity.

Nyaris buku setebal 365 halaman itu didominasi oleh peseteruan antara Kerajaan Elfunity dan Negeri Kegelapan.

Pertempuran begitu mencekam karena semua makhluk fantasi dari ordo burung bersayap, penunggang, pegasus, sembrani, lebah, kupu-kupu, naga putih dan lain-lainnya yang Ando Ajo beri nama dengan Avelf, Ryfas, dan banyak lagi nama yang ada di bawah pimpinan Ratu Meraelf, harus berhadapan dengan makhluk-makhluk mengerikan dari dunia kegelapan semacam kelelawar raksasa, naga bercula dan berekor kait,  raksasa merah  serta makhluk ganas di bawah pimpinan Nazarage.



                                          sumber: Foto Sampul Cataleya Arajoli

                                          Mendekati gambaran Ratu Meraelf dalam benakku


Ajo begitu piawai menuliskan rincian pertempuran itu. Aku tidak peduli dengan nama-nama makhluk yang banyak itu. Aku menikmati gambaran tentang senjata-senjata unik berupa cahaya warna-warni sesuai dengan karakternya, kemudian makhluk-makhluk raksasa bersayap yang melesat melakukan pertempuran di udara. Dan yang terpenting, aku cukup hanya dengan menandai yang mana laskar Kerajaan Elfunity dan yang mana laskar Negeri Kegelapan. Bahkan sempat kuletakkan buku dan aku bertepuk tangan menikmati kemenangan bala tentara Ratu Meraelf (hihi aku berpihak, ya)




                                         sumber: Jelajah Dunia Penuh Misteri di Hutan Terlarang
                                         Makhluk seperti ini yang membayang di kepalaku


Bagian yang sangat menarik adalah saat Ahmad tertusuk Pedang Mulia oleh Nazarage tepat di jantung yang dilingkari cincin emas yang ternyata adalah salah satu pusaka Kerajaan Elfunity bernama Sang Pemanggil. Akibat yang ditimbulkannya sungguh dahsyat, membangunkan Sang Pemusnah yang tidak mengenal kawan atau lawan, tetapi tunduk di bawah kendali Ahmad yang sudah berubah menjadi makhluk cahaya bersayap, menggenggam Pedang Mulia.

Seperti apa dahsyatnya? Mau tahu apa akar masalah perseteruan Kerajaan Elfunity dan Negeri Kegelapan, hubungannya dengan pusaka yang ada pada Ahmad? Siapakah Nazarage itu? Darimana muasal arti nama Pedang Kemuliaan dalam nama Ahmad yang dikaitkan dengan novel ini?

Ayo buruan pesan bukunya kepada Jentera Pustaka dan Ando Ajo kalau ingin tahu keseruannya. Benar-benar asik membacanya, sampai lupa kalau ini hanya fantasi belaka.

Hal yang tidak membosankan, cara Ando Ajo membuat alur cerita, berseling antara cerita dunia nyata yang diwakili bapak dan ibu Ahmad, dan cerita fantasi dengan tetap menghadirkan Ahmad anak manusia di antara makhluk-makhluk rekayasanya.

Top markotop, Ando Ajo.
*
Sidoarjo, 2 Agustus 2016.



Sabtu, 18 Juni 2016

Resensi Novel: Aradhea, Romance Indigo



Judul: Aradhea
Penulis: Rudie Chakil
Penerbit: Jentera Pustaka (Mata Pena Group)
Tahun Terbit: 2016
Versi: 1. E-Book
           2. Cetak, tebal 208 halaman

Sinopsis
Aradhea, sebuah novel berlatar belakang kehidupan pemuda indigo, adalah bagian dari  novel ‘Indigo Series’ dari penulis yang sama. Sebelumnya telah terbit sebuah novel berjudul ‘Super Indigo’.  Dan novel Aradhea ini merupakan versi revisinya.

Aradhea berkisah tentang kehidupan percintaan anak muda, yang dibumbui dengan ikut campurnya orang tua dalam masalah perjodohan yang dihubungkan dengan masalah transenden.

Diawali pengenalan sosok Lina Carolina, gadis  yang sempurna dalam kecantikan, mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Trishakti. Punya sahabat dari Fakultas Teknik, Fendi, yang berperan besar dalam percintaan Lina dengan Aradhea, seorang pemuda indigo.

Aradhea Dananjaya yang kemudian dipanggil dengan sebutan Ade saja, adalah seorang pemuda pengangguran. Ia hidup dalam lingkungan penuh nuansa ‘kebatinan’. Kakeknya, Mbah Sayyidi, seorang yang diberikan kelebihan bisa melihat masa lalu, masa kini maupun masa depan seseorang. Sebagai seorang anak yatim piatu, Ade tumbuh dalam asuhan kakeknya yang tinggal di kaki bukit Gunung Pranama Jawa Barat. Ia juga punya suatu hal khusus yang membedakannya dengan anak muda lainnya yaitu dapat melihat makhluk halus dan melihat hal-hal yang berada di luar jangkauan pandangannya.

 Perkenalan dengan Lina, bermula dari batu kucing yang diberikan Ade kepada Fendi, dan Lina menginginkannya. Kemudian cerita berlanjut seru, ditambah kehadiran Aida, sahabat Lina, yang pernah jatuh cinta kepada Ade. Tapi karena suatu sebab dan lain hal, hubungan mereka putus. Ade menganggap Aida sudah tak punya hubungan apa-apa lagi, sementara Aida tetap menyimpan rasa cinta yang sangat.

Lina yang terikat pertunangan dengan Wahyu akibat perjodohan, masih patuh pada kehendak orang tuanya. Mereka baru boleh bertemu saat mereka sudah siap untuk menikah. Pertunangan karena hutang budi itu sebenarnya adalah ide dari kakek Wahyu, Mbah Waskita, yang melakukan perjodohan itu karena perintah dari alam sana.

Percintaan Aradhea dan Lina tidaklah disadari pada awalnya. Semuanya menjadi terang setelah Lina merasa, ternyata ia tidaklah mencintai Wahyu yang beberapa kali menunjukkan akhlak buruk di hadapannya. Orangtuanya marah berat, tapi Lina sudah bertekad dan pergi dari rumah, tentu saja menemui Aradhea yang dianggapnya akan dapat membantu memecahkan masalahnya.

Dari pergaulannya dengan Aradhea, Lina jadi tahu bahwa dasar dari cinta itu ada tiga, yaitu pertama penyerahan diri, kedua rela berkorban, ketiga satu jiwa.

Keunggulan Isi Novel

Novel ini sarat dengan kalimat-kalimat indah tentang kehidupan.

Kisahnya mengalir begitu manis, khas anak muda. Bahasanya sederhana, meski kadang dirangkai dalam kalimat-kalimat panjang.

Masalah-masalah mistik mendominasi cerita, menjadikannya berbeda dengan novel-novel lainnya.
Ending cerita membuat pembaca bertanya, sebab ada dendam berlanjut dari seorang perempuan bemata bulat.

Kelemahannya

Pemahaman tentang indigo jadi sedikit ternoda dengan adanya unsur klenik seperti membalas dendam dengan cara-cara mistik. Sedikit banyak ini memberikan penilaian negatif kepada para indigo.

Kesimpulan

Novel ini mengasikkan dan pantas dijadikan bacaan karena banyak diselingi kata-kata bijak.

Dan satu hal yang membuatnya istimewa, novel ini diterbitkan dalam kekinian, sebagai novel elektronik yang irit tempat menyimpannya dan juga lebih murah harganya, di samping terbit secara cetak untuk penggila buku tapi gaptek.

Ngiiiiiing.....

Usahakan untuk membacanya. Dijamin asik.


*Sidoarjo, tengah hari bulan Juni 2016


Rabu, 30 Maret 2016

Wawancara Imajiner

Wawancara Imajiner Dengan Ayu Srintil 


Siapa Ayu Srintil?
Aku adalah karakter rekayasa dunia maya. Diciptakan untuk mewakili karakter baik dan buruk sekaligus. Hal itu terungkap dari namaku, Ayu yang menggambarkan karakter baik, dan Srintil yang menggambarkan karakter buruk.

Bagaimana cara mengenali karakter-karakter itu?
Ya, bisa dipahami dari tulisan-tulisanku.
                                                                          
Engkau penulis?
Bisa jadi, iya.

Pengarang, pengamat, ataukah sekadar tukang curcol belaka?
Bisa jadi semuanya.

Atau tukang tulis saja?
Ha ha (tertawa)

Apa visi dan misimu?
Menyampaikan pemikiran, pengamatan, pendapat melalui tulisan demi untuk mengingatkan semua orang bahwa tak ada seorang pun yang dapat memasung isi kepala manusia untuk kepentingan apapun.

Bebas lepas?
Tentu saja dalam koridor etika.

Adakah batasan umur pembaca?
Ayu Srintil adalah karakter rekayasa yang tidak punya batasan umur. Sebab watak dasar manusia adalah pembawa kebaikan sekaligus keburukan, hanya bergantung pada watak mana yang dominan. Ketika masuk ke ranah anak-anak, karakter itu juga akan menyesuaikan dengan perkembangan pemikiran anak.

Mengapa mengambil nama yang berkonotasi perempuan?
Perempuan lebih dapat mengapresiasi banyak pemikiran dalam satu waktu. Barangkali karena kodratnya, menerima amanah kehidupan yang begitu kompleks. Dalam satu waktu bisa menjadi ibu yang menggandeng, menggendong dan mengandung anak-anaknya. Bayangkan kalau perempuan hanya berpikir untuk satu hal saja.

Apa bentuk tulisan yang paling Ayu Srintil suka?
Fiksi

Apa alasannya?
Menulis fiksi bebas mengembarakan ingin. Apa yang hanya ada dalam dunia khayal, tertuang menjadi dunia yang kita mau. Apa yang ada dalam dunia nyata, bisa tersamar dalam kisah seolah tak nyata. Fiksiku adalah duniaku yang ingin dibaca.

Sudah berapa karya tercipta?
Baru akan memulai. Bukan semata untuk kepuasanku, tetapi juga menjadi alternatif baca mengenali karakter-karakterku yang silih berganti kemunculannya.

Ada lagi yang akan disampaikan?
Untuk kali ini tidak ada. Terima kasih sudah berbincang denganku.



 *Sekadar perkenalan dengan Ayu Srintil. Bisa kau cari di mana? Di hatiku....(hadeehhh)

Kamis, 18 Februari 2016

RESENSI BUKU




Judul Buku: Forbidden Forest
Penyusun: Famiya & Hayata
Penyunting: Hayatun Nufus
Penerbit: Wahyumedia
Tahun Terbit: 2015
Tebal Halaman: 92 hlm
Ukuran Buku: 24.5 x 26 cm


Forbidden Forest adalah sebuah buku mewarnai.
Kata mewarnai sendiri, selalu memunculkan aroma kanak-kanak. Sebab mewarnai gambar, lebih dikenal sebagai salah satu sarana anak-anak mengenal warna dan mengenal bentuk-bentuk makhluk hidup di bumi ini.

Barangkali terasa aneh, sebuah buku mewarnai dijadikan obyek resensi. Bahkan mungkin tulisan ini, menjadi yang pertama dan satu-satunya di dunia yang mengulas tentang buku mewarnai.

Sejatinya, buku ini sesuai label covernya, merupakan art therapy, coloring book for adult.
Bukan sekedar mewarnai, tetapi juga merupakan terapi seni untuk orang-orang dewasa.

Kita diajak menjelajah dunia penuh misteri di hutan terlarang. Sarat teka teki dengan mewarnai gambar-gambar menakjubkan yang menjadi tantangannya.








Di mana letak misterinya? 
Misterinya adalah mendapatkan gambar-gambar rahasia yang tersembunyi di antara rerimbunan pohon, hewan-hewan yang menakjubkan, dan padang bunga yang cantik.

Dengan mewarnainya, kita diajak untuk merasakan setiap keindahan goresan pena yang memukau, berimajinasi penuh ketentraman hati, dan menikmati ketenangan yang timbul ketika memberi warna gambar pada lembar demi lembar buku ini.



Buku ini dicetak pada kertas berkualitas bagus. Sampulnya dibuat ganda. Sampul pertama bisa dilepas, memudahkan kita mewarnai dan membolak balik halaman berulang kali tanpa khawatir buku menjadi lusuh.
Menarik juga melihat lipatan sampul luar ke arah dalam pada bagian depan sekitar 6 cm, dijadikan tempat menyampaikan biodata dua penyusunnya, Famiya dan Hayata. Sedang pada lipatan bagian belakang menjadi tempat Daftar Pustaka.
Secara fisik buku ini cantik sempurna.

Aneka gambar binatang, tanaman dan ornament-ornament dibuat rumit dengan goresan detail, karena buku ini memang bukan untuk diwarnai oleh anak-anak.

Jelajah dunia penuh misteri di hutan terlarang.
Menjadi indah atau tak terkuak, sangatlah bergantung pada pemilihan warna dan ketekunan menggoresnya serta menemukan hewan-hewan rahasia di sela-sela gambar.

Buku ini memang dimaksudkan untuk menghilangkan kejenuhan. Karenanya, kita diajak untuk memanjakan diri, dengan tenang mewarnai setiap detail yang ditampilkan.

Hampir tidak ada cacat cela pada gambar yang disuguhkan. Hanya mungkin ada beberapa gambar yang dicetak sama untuk memenuhi halaman kiri dan kanan. Harusnya lebih menarik kalau disuguhkan gambar yang berbeda pada tiap halamannya.

Seperti buku-buku latihan soal, kunci jawaban misteri disertakan pada halaman belakang.
Diberikan pula bonus dua poscard yang siap diwarnai sendiri dan digunting tanpa merusak buku.

Mewarnai mengasyikkan. Bebas membuat dunia menjadi berwarna seperti yang kita ingin.
Tidak ada ruginya membeli buku ini, meski harganya agak mahal.
Salam.


Sidoarjo, 18 Pebruari 2016



                               
                                    Tukang warna: Peny Wahyuni Indrastuti